Sabtu, 07 Februari 2015

THE LETTER

Dan belakangan, aku menemukan tulisan yang kamu persembahkan untuknya :
           
Mas Affan,
Aku tidak tahu apa yg membuatku mencintaimu
Pertemuan kita biasa saja. Tidak ada yang istimewa
Kamu pun tidak terlalu tampan, justru dingin dan acuh tak acuh
Tapi, mencintaimu membuatku sadar bahwa aku harus memintamu pada-Nya. Membuatku sadar kalau Dia akan memberikanmu untukku.
Percayalah. Dalam doaku, aku selalu meminta kamu untukku.
            Mas Affan,
Aku mencintainya
Dengan menyebut Asma Allah, aku mengatakan AKU MENCINTAIMU
Perasaan ini tidak hilang sejak enam bulan yg lalu
Maka kupastikan perasaan ini akan sama
Sampai kamu menikahi perempuan yg bukan aku
Sampai aku menikahi lelaki yang bukan kamu
Mas Affan,
Aku selalu mengidamkan kamu menjadi imam dalam setiap sholatku
            Aku selalu membayangkan menyiapkan sarapan sebelum kamu berangkat bekerja
Aku selalu membayangkan indahnya pahala menggapai syurga setiap mencium tanganmu.
Aku mencintaimu
Akan tetap mencintaimu
Kelak jika nanti kita bertemu dan kamu menggandeng seorang wanita sebagai istrimu, tolong jangan pernah ingat kalau pernah ada aku yg begitu mencintaimu


Kamu melepas benteng pertahanan. Menangis dalam duka. Cinta yang kamu harapkan tidak pernah terbalas. Kamu sudah runtuh, Nida. Seiring runtuhnya hatimu. Nida, cintailah dia dengan bijak. Cintailah dia dari kejauhan. Cintailah dia dengan indah. Cintailah dia dalam doa sepertiga malammu. Siapa tahu dialah jodoh yang Allah berikan untukmu. Siapa tahu dialah yang akan benar-benar menjadi imammu. Aku tahu persis. Harapan itu masih bersandar di benakmu. Sampai saat ini. 31 Januari 2015.

THE AIRPORT

“BODOH! APA YANG KAMU LAKUKAN, NIDA?”          
            “Tidak ada. Aku hanya mengejar hati yang ingin kutemui.”            
            Hari Rabu, 31 Desember 2014.Beberapa jam yang lalu. Tawa masih mengiringi bibirmu meski aku tahu betul. Kamu terluka. Terluka akan kepergiannya yang tiba-tiba. Kalian satu meja. Bersama dengan teman lainnya. Dia duduk tepat di sisimu. Seorang mengambil foto kalian berdua. Affan mengenakan kemeja berwarna biru muda. Wajahnya terlihat lelah sekali. Mungkin karena beberapa hari ini dia berusaha dengan keras menyelesaikan pekerjaannya sebelum pindah. Ya. Dia harus pindah kembali ke kota dimana dia berasal.
            “Kenapa kok mendadak, mas?” Tanyamu.
            “Nih biar nggak banyak pertanyaan.” Dia menunjukkan text yang datang dari atasannya. Dia tampak bosan menjawab pertanyaanmu. Mungkin sudah banyak orang yang bertanya padanya.
            Kamu hanya diam.
            Kalian kembali ke kantor. Kamu melihatnya beredar di lantai dua. Di lantai yang sama denganmu. Dia mengobrol dengan orang-orang. Entah apa yang dia bicarakan. Kamu pun berpura tidak peduli.
            “Kris. Aku mau ke bandara.” Ucapmu.
            “Mau apa, Dea?”
            “Aku mau melepas kepergiannya.”
            “Naik motor?”
            “Yes. Apalagi.”
            “Aku ikut ya.”
            “Jangan. Nanti aku malah khawatir.”
            “Tapi di luar hujan.”
            “Mau gimana lagi Kris. Aku mau dia tahu apa yang aku rasa sebelum dia pergi.”
            “Yakin? Aku khawatir loh.”
            “Nggak apa-apa. Kita uda barengan hampir tujuh bulankan? Percaya deh.”
            Kristina begitu berat melepasku. Tapi aku memaksanya.
            Pesawat Affan pukul 18.30 WIB. Bel pulang kantor berbunyi. Kamu langsung pulang. Sedang Kristin tinggal di kantor karena ada acara akhir tahun.
            Segera kamu membuka lemari. Mengeluarkan sweater hangat berwarna pink. Memindahkan dompet dan handphone ke dalam tas ransel yang lebih kecil. Kamu juga menghangatkan badan dengan minyak kayu putih. “Pasti akan sangat dingin.”
            “Nida! Tunggu. Apa kamu yakin?” Tanyaku.
            “Yes. insyaAllah. Why?
            “Ini gerimis, Nida. Nanti kamu sakit.”
            “Nggak. insyaAllah nggak bakal. Aku cuma nggak mau hidup dalam penyesalan karena kehilangan orang yang terkasih tanpa dia tahu aku mencintainya.”
            “Kamu yakin kamu mencintainya?”
            “Sudah empat bulan. Aku sudah pergi ke Jakarta dua kali. Sudah berusaha melakukan apapun untuk melupakannya. Tapi apa yang kudapat? Setiap harinya perasaan yang sama. Merindunya, menginginkannya, memikirkannya, dan aku sadar bahwa aku mencintainya. Apa ini kurang?”
            “Bukan begitu Nida. Kamu harus pikirkan kesehatanmu juga. Kesehatanmu belum pulih.”
            “Aku sehat. Aku tidak ingin membiarkan diriku menyesal seumur hidup. Kalau memang dia tidak membalas cintaku, paling tidak dia harus tahu kalau aku pernah mencintainya. Pernah sangat mencintainya.
            “Baiklah, lalukan kebodohanmu itu!”
            Setelah menunggu instruksi dari Kristin, kamu pun pergi. Melesat dengan cepat.
            Aku memperhatikanmu dari jauh. Dengan sebuah payung membentang. Memperhatikan kegilaanmu membawa motor dibawah air hujan yang semakin deras. Jalan licin tidak membuatmu mengurangi kecepatan. Hampir 90 km per jam. Sesekali ada lubang, kamu kepayahan mengurangi kecepatan. “Ya Rabb. Aku pasrah kalau memang dalam perjalanan ini ada yang terjadi padaku. Tapi aku mohon biarkan aku bertemu dengannya.” Pintamu
“Sudah pukul 18.00 WIB. Ya Allah.. tolong keburu. Jangan dulu pergi, mas.” Tangismu terurai. Baju, celana, jaket, dan kerudungmu sudah basah total. Bibirmu membiru akibat dingin yang merundung. Bukan hanya itu. Gigimu beradu karena menggigil. Sudah lebih dari setengah perjalanan. Kamu tidak mungkin mundur. Baru. Baru pertama kalinya aku melihatmu seperti ini. Memperjuangkan cinta yang bahkan tidak pernah ada untukmu. Memperjuangkan seorang lelaki yang namanya tidak pernah absen melewati doamu. Memperjuangkan hati yang tidak pernah merasakan keberadaanmu. Begitu besarkah kamu mencintainya, Nida? Kuakui. Ini sudah empat bulan. Aku tahu betapa seringnya kamu menangis. Mencoba mengubur perasaanmu padanya. Tapi tetap tidak berhasil. Wajahnya selalu tergambar jelas dalam ingatanmu.
18.15 WIB. Sampai di bandara. Kamu memarkirkan motor. Berjalan lebih cepat.
            “Dimana dia?” Kamu terus mencarinya. “Halo, mas! Kamu dimana?” Ternyata Affan masih di jalan.
            Kamu berjalan cepat menuju loket salah satu maskapai penerbangan. “Sriwijaya delay nggak mas?” Tanyamu.       
            “Iya, Bu. Kurang lebih 30 menit.”
            Text
            Kamu    : mas. Pesawat delay sampe 30 menit
            Affan    : kt siapa?
            Kamu    : Td aku nelp customer service
            Padahal... kamu tengah berdiri di pintu masuk ­bandara. Menunggu kehadirannya.
            Wajahmu kusam terkena hujan. Kerudungmu basah. Baru kali itu aku melihat penampilanmu yang benar-benar payah. “I don’t care!” jawabmu.
            Tidak berapa lama. Mobil innova biru tua berhenti di lobi. Turunlah seorang lelaki berkaca mata hitam. Dengan jaket seperti biasa. Dia menggendong sebuah tas ransel dengan benar. Di pundak kirinya bertengger sebuah tas lagi yang cukup besar. DIA DATANG. AFFAN DATANG.
            Kamu menghampirinya, “Ini masukin.” Menyerahkan kantong plastik berisi makanan.
            “Loh kamu kok disini?” Tanya Affan.
            “Ya. Mau ketemu kamu.”
            “Aku check in dulu ya.”
            Kamu melihatnya berlalu.
            Berapa lama dia datang. Mengajakmu menunaikan sholat maghrib.
            ...
            Akhirnya kalian berada di satu meja. Dia asik menyantap makanannya. Kamu pun sama. Harus makan. Perjalanan pulang masih jauh. Kamu harus mengisi perutmu yang kosong agar tetap sehat.
            Affan bercerita tentang pekerjaan yang harus dia selesaikan selama tiga hari. Kamu memperhatikannya dalam-dalam. “Ayo, Nida! Apa kamu kemari untuk mendengar ceritanya? Kamu lupa tujuanmu yang sebenarnya?” Aku berbisik.
            “Mas... aku jauh-jauh cuma buat denger kamu ngomong? Boleh kasih aku kesempatan?”
            “Oh ya.”
            “Aku nggak tahu kenapa aku kayak gini. Sejak awal ketemu kamu selalu deg-degan. Kamu deket sama cewek lain aku cemburu, marah, dan nggak tahulah. Aku nggak peduli apa respon kamu. Aku cuma mau bilang...” Terhenti. Kamu menarik napas. Kamu bicara terlalu cepat, Nida.
            “Udah udah. Ngobrolinnya biasa aja ya. Apa perlu aku jawab sekarang?”
            Ah entahlah. Aku tidak begitu dengar lagi apa yang kalian bicarakan. Suara speaker pengumuman mengganggu konsetrasiku.
            “Ya udah. Kita kesana yuk!”
            Kalian menuju lobi bandara. Pesawatnya sudah lending. Kalian berjabat tangan. Bertatapan satu sama lain. Cukup lama. Menghempaskan serpihan hatimu yang sudah berceceran. “Hati-hati ya.” Ucapmu menutup pertemuan kalian. Kamu memanggilnya. Ingin rasanya kamu bilang kamu mencintainya. Tapi bibirmu membeku. Entah karena dingin yang menyerang atau... entahlah.
            Bergegas kamu menuju motor meski sebenarnya langkahmu melemah. “Pacarnya eh suaminya ya, Mba?” Tanya seorang petugas.
            “Iya, pak. Suami saya.” Omongankan doa.
            “Mau kemana?”
            “Ke Jakarta Pak.”
            “Dinas disana? Kok Mba nggak ikut?”
            “Saya ada kerjaan di sini, Pak. Mari, pak.” Kamu berjalan agak cepat.
            Apa yang kamu katakan, Nida? Kamu berbohong? “Entahlah. Omongan adalah doa. Dan aku berdoa semoga dia yang menjadi suamiku kelak.


            Perjalanan satu jam setengah menuju kosan sudah kamu tempuh. 

HUT

            
            Hari ulang tahunnya. Dia mengajakmu pergi karena rasa bersalah merundungnya. Dia selalu saja membatalkan janjinya denganmu beberapa waktu lalu. Ketidak sukaannya, ketidak peduliannya, ketidak kamu-annya, membuatmu selalu kecewa. Meski memaafkan adalah satu kata yang selalu kamu pilih.
            Nida, ini bulan keempat. Perasaanmu padanya tidak pernah hilang. Justru semakin kuat. Entah apa yang menguatkannya. Hanya saja, mencintainya membuatmu dekat dengan-Nya. Mencintai-Nya membuatmu tahu cara memperhatikan sesama. Semua karena mencintanya. Pernah suatu malam kamu terbangun. Gelisah sekali. Pikiranmu terhenti pada namanya. Ada apa dengannya?
            Text. 00.00 WIB
            Kamu    : kamu sehatkan?
            Text. 06.00 WIB
            Affan    : harus ya bbm tengah malem gt
            Kamu    : gpp kepikiran km aj
            Affan    : sdang kurang sehat nih. Flu.
            Benar saja. Ini kah jawaban atas kegelisahanmu semalaman? Kamu tahu dia sakit? Perasaanmu mengatakan kalau dia sakit? Inikah firasatmu? Kuat sekali peasaanmu padanya, Nida.
           
            Sore ini kalian pergi berdua. Menuju rumah makan steak yang katanya terenak di seluruh kota. Dia mengenakan batik sedang kamu berpakaian casual. Kamu selalu merasa tidak nyaman kalau harus bepergian dengan pakaian kantor yang formal.
            Text
            Hudaya : hari ini affan ultah
            Kamu    : bener?           
            Hudaya : ya. Br baca path. Temennya komen di path dia
            Kamu begitu penasaran. Takut salah informasi maka kamu langsung bertanya padanya. Benar saja. Hari ini dia berulang tahun ke-27. Sembari menunggunya menyelesaikan sholat maghrib, otakmu berputar. Apa yang akan kamu berikan?
            “Udah?” Tanyamu.
            “Ya.”
            “Mas. Buru-buru nggak?”
            “Nggak sih. Cuma kayanya mau cuci baju. Kenapa?”
            “Anter ke mall dulu yu. Hari senin adikku ultah. Aku mau beliin dia baju deh kayanya. Enaknya kemeja atau kaos ya?”
            “Ya aku nggak tahu. Adik kamu sukanya apa?”
            “Dia tuh kaya kamu. Tolong kamu yang pilihin ya. Soalnya aku nggak ngerti cowok seleranya gimana.”
            “Ya aku mana tahu.”
            “Udah coba aja dulu ya. Eh karena kamu lagi ulang tahun, kamu yang bayar ya.” Ucapku terkekeh-kekeh.
            Nida, matamu berbinar sekali. Kamu benar-benar menyukai kebersamaanmu dengannya.
            Kamu meninggalkan Affan yang sedang memilih baju untuk adikmu. “Pokoknya kamu pilih ya.” Ucapmu.
“Emang kamu mau kemana?”
“Mau cari makanan dulu.”          
“Loh aku gimana milihnya.”
“Bebas. Aku percaya sama pilihan kamu.”
Kamu berjalan lebih cepat. Membeli tiramisu cake kecil beserta lilin. Eh tunggu. Dia ulang tahun ke-27 bukan? Lalu kenapa kamu hanya membeli lilin angka 7? Mana angka 2 nya? “Diamlah. Aku tidak menemukan angka 2. Biarlah. Semoga dia maklum.”
            “Kamu kemana deh?” Tanyanya sediit kesal.
            “Nih beli donat. Ya nggak apa-apa sih sendirian juga. Sekali-kali kamu aku kerjain. Udah nemu bajunya?”
            “Makanya aku nggak suka bilang kalau aku ulang tahun. Di Indonesia itu, orang yang ulang tahun malah dikerjain.” Dia bercerita dengan kesal. “Ini.” Affan menunjuk satu baju yang terbuat dari bahan jeans.
            “Ah aku nggak suka. Mending baju merah marun yang tadi kamu pilih pertama aja.”
            Kamu meminta Affan mencobanya. Sayang dia tidak menunjukkannya padamu.
            ...
            Akhirnya tiba di depan gerbang kosmu. “Disini aja ya.” Izin Affan.
            “Nggak sih. Naik dulu. Aku lagi nggak mau jalan.” Ucapmu manja.
            Affan memarkirkan mobilnya. Kamu mulai sibuk membuka plastik makanan yang tadi kamu beli dengan terburu-buru. “Karena kamu hari ini ulang tahun, ayo kita rayain sama-sama ya. Tiup lilin dulu.”
            Aku perhatikan. Tidak ada ekspresi di wajah Affan. Begitu dingin seperti biasa.
            “Kok repot-repot?”
            “Nggak kok. Kan kamu bilang belum pernah rayain ulang tahun, nah ini ayo kita rayain. Aku cari-cari angka 2 nya nggak ada loh. Jadi angka 7 aja ya. It doesn’t mean you are younger than me ya.” Aku tahu. Kamu ingin jadi orang pertama yang merayakan ulang tahunnya. Tindakan yang BODOH, Nida!
            “Nih kamu yang nyalain lilinnya.” Kamu menjulurkan cake kecil beserta lilin angka 7.
            “Aku  yang ulang tahun, aku yang nyalain lilinnya, aku yang tiup?” Affan menghela napas. Kamu hanya tersenyum usil.
            Baru saja dia hendak meniup lilinnya. Kamu menghentikannya, “Tunggu! Tunggu! Aku nyanyi dulu. Happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday happy birthday... happy birthday mas Affan.” Ini kejadian konyol yang pertama kali kamu lakukan hanya untuk seorang lelaki yang tidak pernah memiliki perasaan apapun padamu, Nida. BODOH!
            “Nah ini kuenya. Ini donatnya. Dan itu baju sebagai kado ulang tahun ya.”
            “Aku sih uda curiga tadi. Jadi nggak kaget.”
            “Oh?” Kamu terkejut. “Jadi aku gagal bikin kejutannya dong.” Kamu menggeleng-gelengkan kepala. Kamu memang tidak pernah berhasil memberikan kejutan pada siapapun. Mungkin karena ini kali pertama kamu memberikan kejutan untuk seorang lelaki yang membuatmu jatuh hati.

            Nida, malangnya nasibmu. Tidak sampai hati aku melihatmu berjalan lebih cepat. Menemukan kue ulang tahun untuknya. Napasmu terengah-engah. Semalaman kamu mengusap kaki dengan krim penghangat. Lupakah kalau kamu tidak boleh terlalu banyak jalan? “Tidak! Hanya saja. Perasaan cinta ini menggiringku melakukan segala hal untuknya. Untuk membuat garis senyum di bibirnya. Segaris saja.”

DEGUPAN YANG SAMA

“Kenapa kamu?” Tanyaku.
            “Entahlah. Jantungku deg-degan banget. Sesak.”
            “Bernapas pelan-pelan...”
Kamu tengah duduk di main hall. Sebentar lagi doa pagi. Meski baru pukul 7.15 WIB. Wajahmu terlihat menegang seiring degupan yang tidak juga kamu fahami maknanya. Seketika kamu menoleh ke sisi kanan. Tepat ke lorong yang menghantar setiap orang menuju banking hall untuk absen pagi. “Dia.” Bisikmu.
            “Siapa dia?” Tanyaku.
            “Affan.”
            Dia datang dengan kemeja warna biru muda. Masih dengan jaket yang sama. Gaya yang sama. Tas gendong yang berlabuh di satu sisi bahunya. “Inikah jawaban dari malam-malam tahajudku?” Tanyamu.
            Aku hanya terdiam. Degupanmu begitu cepat. Aku bisa merasakannya. Tapi kamu tidak banyak berkata. Bukannya menyapa dia, kamu malah menundukkan wajahmu. Mengacuhkannya. Kebodohan berikut yang kamu lakukan. Tidakkah kamu membiarkan dia untuk mengetahui kalau kamu memperhatikannya? “Jangan!”
            Hari-hari berikutnya terjadi. Degupan yang selalu muncul sebelum kehadirannya. Setiap malam kamu terbangun dengan doa yang sama. Dengan permohonan yang sama tentangnya. Sering kali jantungmu berdegup kencang, tidak berapa lama dia dan kawanannya datang. Atau sesaat secara tidak sengaja degupan itu datang lagi dan kalian berpapasan di depan pintu. Bukan hanya itu. Suatu sore dia pernah membantumu untuk mengeluarkan motor yang terparkir begitu dekat dengan motor lainnya. Lagi dan lagi kamu mengalami degupan yang sama. Kamu sendiri tidak bisa memaknai degupan apa itu.
            Suatu hari kamu memberanikan diri untuk bicara dengan temannya, Hudaya. Dia cukup bijak. Membuat kamu sadar bahwa Jalan Allah lebih indah. Bodohnya... perasaan yang tidak karuan itu kamu sampaikan kepadanya. Responnya dingin, “Kamu fokus aja dulu pendidikan. Aku seneng kok berteman sama kalian.”
            “Lalu? Apa yang akan kamu lakukan?” Tanyaku.
            “Melupakannya.”
            “Kamu hanya perlu waktu lebih lama untuk memastikan perasaannmu, Nida. Apakah benar kamu mencintainya atau hanya rasa penasaran saja.”
            “Yes. Waktu lebih lama.”

            Tiga bulan sudah kamu berada di kota ini. Waktunya kamu kembali ke Jakarta untuk menunaikan kewajiban lainnya. “Mungkin dengan menjauh darinya kamu akan melupakannya.” Ucapku.
            Kurang lebih dua minggu kamu di Jakarta. Selama itu pula kamu tidak pernah melewatkan malam tanpa memikirkannya. Selalu merindunya. Masih namanya yang terucap di setiap doamu. “Aku sampai bosan, Nida. Lupakan dia yang tidak pernah mencintaimu.”
            “Tidak. Mencintainya indah.”
            Kamu bersikeras yang kamu rasakan adalah cinta. Mungkin kamu benar. Belum pernah aku lihat kamu memiliki perasaan sekuat ini. Dari dulu, kamu tidak pernah mencintai lelaki. Selalu mereka yang mencintai dirimu lebih dulu. Restu dari orang tua yang menggiringmu menyukai mereka. Sialnya di tengah cinta sudah tumbuh, mereka meninggalkanmu. Dua lelaki terdahulu. Yang satu menikah. Yang satunya lagi, kamu tidak pernah menceritakannya padaku. Yang jelas dia sudah menghilang.
            Di salah satu malam, sebelum tidur, kamu memberanikan diri untuk menekan nomor seseorang. Nomor Affan. Ya. Saking rindunya, kamu hendak meneleponnya. Tapi kamu tidak ada keberanian untuk melanjutkannya. Kamu terlalu takut dan malu. Merindunya. Adalah satu kata yang bisa menggambarkan perasaanmu saat ini. Meski dia tidak pernah merindumu. Selalu saja mengacuhkanmu, tidak mempedulikan perasaanmu.

            Kembalilah ke kota asal. Setelah dua minggu di ibukota. Kamu bertemu dengannya. Memalingkan wajah setelah menampilkan senyum yang sok ceria. Masih dengan degupan yang sama. Sadari, rasa yang ada di hatimu tidak berubah sejak tiga bulan yang lalu.

Jumat, 06 Februari 2015

PERMULAAN

Hanya ada satu bioskop disana.
            Affan mengajakmu dan partner pergi nonton.
            “Ya udah... ajak nonton saja.” Begitu bujukan kedua Yanto dan Hudaya.
            “Iya. Film yang rame apa ya.” Tanya Affan seolah asik mengobrol sendiri.
            Kamu hanya diam. “Boleh.” Jawabmu singkat.
            “Enaknya malam ini atau besok?” Tanyanya.
            “Bebas. Tapi ada aerobic.” Jawabmu.
           
            Pukul 17.15 WIB.
            Aerobic dimulai. Kamu melihat Hudaya, Yanto, dan bos mereka sudah siap pulang. Satu orang terbelakang yang menarik perhatianmu. Affan. Dia pun pulang sembari menggendong satu tali dari tas ranselnya. Dia mengenakan jaket kaos berwarna hitam. Senada dengan kaca matanya. Kulitnya yang putih lebih terpancar. Tanpa peduli kepergiannya kamu melanjutkan gerakan aerobik. Hanya selisih beberapa menit saja. Dia kembali ke lantai empat. Memperhatikan setiap orang yang tengah berkeringat.
Text
            Affan    : Jd nonton ga?
            Kamu    : bebas. Kpn?
            Affan    : bsk aja ya biar waktunya panjang
           
            Nida, aku merasakan ada desiran lain di hatimu. Sadarkah kamu?
            “Besok kalian ada acara?” Tanya manajermu.
            “Nggak, Pak. Kenapa?”
            “Besok ikut ke kantor dulu ya. Mau nunjukkin sesuatu.”
            “Siap, Pak!”
            Kamu lupa kalau besok kamu ada janji nonton dengan lelaki dingin yang baru saja mengirimu teks. Aku salah rupanya. Kamu tidak lupa. Sama sekali tidak melupakannya.

            Setelah makan siang, kamu memutuskan untuk langsung pulang ke kos. Film dimulai jam tiga sore. Sesampainya di kos, kamu langsung berganti baju. Sama sekali tidak sempat memegang make up. Affan sudah di jalan menuju bioskop. Lepas sholat kamu langsung menyambar kunci motor. Membonceng partnermu menuju bioskop yang sama dengan Affan.
            Agak sulit menemukan parkiran. Terlalu padat manusia saat itu. Dengan debaran jantung yang cepat akibat terburu-buru akhirnya kamu bertemu dengan lelaki yang sama. Lelaki yang mengenakan jaket hitam. Ada yang berbeda dengannya. Dia mengenakan celana jeans berwarna krem kecokelatan. Sendal gunung yang berwarna hitam. Dibalik jaketnya, terselip kaos berwarna hitam. Sisiran rambutnya rapi seperti biasa. Apa yang kamu tunggu. Ada lelaki single, yang sekarang tengah berada di hadapanmu. Bukankah kamu tengah mencari seorang pendamping hidup? Tidakkah kamu merasakan debaran cinta? Nida, kamu terlalu lama menutup diri. Menjaga benteng hatimu. Kamu terlalu takut untuk terluka. Tanpa kamu sadari, kamu sudah jauh melampaui targetmu. Sebuah pernikahan yang ingin sekali kamu langsungkan di tahun ini.
Seperti biasa. Hadir dengan keisenganmu. Sesekali kamu menganggu Affan yang sedang fokus menonton layar lebar di hadapannya. “Serius bener, mas.”           Dia hanya tersenyum. Napasnya terdengar jelas di telingamu. Apa kalian duduk terlalu dekat? Sepertinya tidak.
            Film selesai. Cukup menghibur untuk akhir pekan yang biasa saja.
            Kamu dan Affan duduk berhadapan di sebuah tempat makan. Kamu menunjuk tiga donat untuk dimakan. Rasanya perutmu mulai kelaparan. Sembari menunggu Kristin yang tengah asik mencari baju. Dunia seakan menjadi miliknya.
            Kalian memulai obrolan. Tidak banyak. Kamu cukup tahu kalau dia anak bungsu. Kakak-kakaknya sudah menikah. Dia dari kota seberang, yang merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia. Dia kuliah di Universitas Sriwijaya. Sempat kerja di salah satu bank BUMN. Di kantor yang sekarang dia sudah bekerja hampir empat tahun. Baru dua bulan dia pindah ke kota ini. Dulu dia ditempatkan di kota kelahirannya. Karena di kota ini dibuat kantor wilayah, dia dipindah tugaskan kesini. Katanya karena dia masih single makanya dialah yang diminta untuk pindah. Kepindahannya menjadi kali pertamanya untuk pindah jauh dari orang tuanya. Kamu diam. Memasang wajah acuh tak acuh. Aku kesal sekali melihatmu bersikap dingin seperti itu. Tidak biasanya. Biasanya kamu hangat dengan orang yang kamu baru kenal. Kenapa, Nida?
            “Eh mungkin dia udah selesai.”
            “Kalo dia udah selesai. Pasti hubungin aku.”
            “Tapi ada yang mau aku cari.” Ucapnya.
            Aku mulai menangkap perasaan tidak nyaman dalam dirinya. Mungkin dia tidak nyaman dengan responmu yang judgemental dan tidak hangat.
            Pertemuan malam minggu yang membosankan. Satu kalimat yang hadir dalam kepalamu. Affan tidak sebaik penampilannya. “Bagaimana bisa. Lelaki yang penampilannya sesederhana itu, berbicara seolah-olah mendebatku?” Kesalmu. “Tapi kenapa aku bersikap sedingin itu? Kenapa aku bodoh? Kenapa ya?” Aku sendiri terheran dengan responmu. Diawal kamu cuek, tapi kamu khawatir dengan ketidak pedulian yang sengaja kamu buat di hadapannya.

            Malam ini kamu gelisah sekali, Nida. Selepas bermalam mingguan dengan teman baru, kenapa kamu menjadi kalut seperti ini? Ada apa?
            “Entahlah. Aku memikirkan sosoknya. Aku mencoba sedingin mungkin. Tapi justru semakin aku memandang dia, semakin aneh hatiku.”
            “Apa? Coba kamu telaah dulu apa yang kamu rasakan.” Saranku.
            “Aku... aku terbayang wajahnya. Apa ini?”          
            “Ini sudah tengah malam. Beristirahatlah. Dengan tidur kamu bisa melupakan semuanya.”
            “Kenapa kau bersikap bodoh seperti tadi? Kenapa aku tidak bisa membuatnya nyaman. Aku bisa merasakan ketidak nyamanannya dekat denganku tadi. Aku bisa merasakan kalau dia sedikit menjaga jarak dariku. Aku bisa merasakannya. Bagaimana kalau dia tidak suka denganku?”
            “Apa Nida? Coba katakan sekali lagi?”
            “Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku?”
            “Nida, kamu mencintainya.”
            “Tidak!”
            “Jangan membohongi dirimu sendiri. Ayo kita adakan ujian kecil-kecilan.”
            “Apa itu?”
            “Tunggu beberapa waktu. Jika perasaanmu masih sama, berarti benar kamu mencintainya.
            “Berapa lama?”
            “Hanya kamu yang tahu. Sekarang, ambillah air wudlu. Sebaiknya kamu menyediakan sedikit waktu bermesraan dengan pencipta-MU. Memohon petunjuk-Nya. Dialah yang Maha Mengetahui.”
            Aku rindu sekali melihatmu bermunajat pada Illahi di sepertiga malammu. Sejak dua minggu kamu datang ke kota baru, kamu belum pernah menunaikan sholat malam. Kamu terlalu letih dengan urusan duniawi; berkumpul dengan teman-teman, belajar, menjalankan hobimu. Semuanya. Kamu terlalu fokus dengan urusan dunia. Tapi kamu lupa. Usahamu akan sia-sia jika kamu tidak memohon pada-Nya. Tekananmu akan semakin berat jika tidak dibarengi permhonan kepada-Nya.
“Nida, kamu menangis?” Aku melihat tetesan air mata jatuh begitu saja. “Ada apa, Nida?” Kamu masih khusyuk dengan kemesraanmu.
            Hanya selang beberapa menit. Kamu mengangkat kedua telapak tangan. Menyatukannya. Dan kudengar lirih doamu untuk kedua orang tuamu, untuk sahabat-sahabatmu, untuk teman yang baru kamu temui, untuk mereka yang belum juga kamu temui. Kali ini, wajahmu basah oleh air mata yang tiada henti..
            “Aku sedih sekali. Setiap kali aku bangun malam, memohon kepada Allah, aku selalu malu mengingat dosa besarku selama ini. Apakah Allah akan memaafkanku?”
            “Tentu, Nida. Dia Maha Mengampuni.”
            “Ya Allah...” Tanganku kembali mengangkat. “Aku percaya dan yakin Engkau Maha Segala. Engkau Maha Mengetahui. Tapi izinkan aku bercerita langsung. Ya Allah.. aku bertemu dengan lelaki ini. Affan namanya. Engkau lebih tahu. Kenapa dia mampu membuatku segelisah ini? Secemas ini? Ada apa Ya Allah? Apa ini perasaan yang Engkau anugerahi padaku? Atau ada campur tangan setan di dalamnya? Ya Allah.. jika memang perasaan ini hanya ujian dan bisikan dari setan, aku mohon. Buang jauh-jauh perasaan ini Ya Allah. Semoga Engkau membuatku melupakannya. Diri ini sepenuhnya milikmu. Sepenuhnya Ya Allah. Hatiku, pikiranku, semuanya. Maka hanya Engkau yang dapat menghendaki diri ini untuk melupakannya. Untuk tidak mengingatnya. Tapi jika memang perasaan ini adalah yang Engkau Ridhoi dan pertanda dia jodoh hamba, maka pertemukanlah kami di setiap waktu terindah-Mu.” Kamu menutup doamu dengan tangisan yang mereda.
            “Nida, kamu benar mencintainya?”
            “Ini baru hitungan jam. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Biarlah Allah yang memberi jawabannya.”
            “Nida, bukalah hatimu sekarang. Carilah penggantinya.”
            “Entahlah. Biar Allah yang menuntunku.”

            Cinta. Apa itu cinta? Kamu sendiri sudah lupa dengan maknanya. Kamu lupa rasanya. Terakhir kamu merasakannya, kamu dilukainya. Terakhir kamu mengharapkannya, ternyata kamu disakitinya. Cinta tidak menyakiti dan melukai. Dia hadir mengisi kekosongan hati. Cinta adalah sebuah janji. Meminangmu menjadi halal atau tidak sama sekali. Kalau memang kamu mencinta seorang Affan, bawalah namanya di setiap doamu. Di setiap sepertiga malammu. Barangkali dia memang jodohmu. Maka kirimkanlah dia salawat agar tetap dalam lindungan Allah.