Rabu, 27 Februari 2013

Setelah masa penantian


Setelah tiga bulan selalu berusaha mencari kerja, akhirnya Allah swt mempertemukanku dengan jodoh pekerjaan. Agak menyesal. Setelah yudisium, bukannya langsung cari kerja, aku malah ingin berleha sejenak. Mengapa demikian? Sejak selesai skripsi, aku sudah apply di beberapa perusahaan. Ada panggilan psikotes memang. Tapi bapak tidak mengizinkan kalau aku harus bolak-balik Jakarta-Bandung padahal waktu wisuda sudah sangat dekat. Aku menuruti nasehat bapak.
Di Desember… setelah wisuda, aku aktif mengikuti beberapa job fair di Bandung. Salah satu perusahaan besar memanggilku untuk melalui tahapan tesnya. Sampailah dua minggu aku mengikuti setiap tahapnya. Dari mulai psikotes tahap satu, tahap dua, sampai interview psikolog. Sayang. Aku hanya berjodoh sampai bertemu dengan psikolog. Ada beberapa panggilan kerja yang lagi lagi harus kuabaikan di Bandung. aku memutuskan untuk memenuhi panggilan tes kerja salah satu bank di Jakarta. Psikotes yang tidak pernah kulupakan. Sekaligus psikotes yang mengantarku di ruang kerjaku sekarang.
Masih teringat jelas, awal psikotes, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Aku pergi dengan Pak Asmuni –ojeg- menuju Melawai. Bajuku setengah basah. Sedang celana, sudah basah kuyup. Terima kasih Pak Asmuni yang sudah mengantarku. Di ruang tes, aku kedinginan lagi. Konsentrasi buyar. Pasrah. Siapa sangka. Setelah psikotes, namaku dipanggil ke dalam empat besar dengan IQ yang memenuhi kualifikasi dari 12 orang. Bagiku, itu adalah prestasi yang besar, namun tetap tidak patut dibanggakan. Kecuali kalau membanggakan kedua orang tuaku, maka aku bangga karena telah membanggakan mereka, bukan karena prestasinya.
Selama beberapa minggu aku di Jakarta, Tangerang lebih tepatnya. Tinggal di rumah Aa. Mengikuti beberapa tes kerja yang bertubi-tubi datang. Dan semuanya dari Bank. Bank konvensional dan syariah.
Syukur Alhamdulillah… bila waktu telah tiba, Allah swt senantiasa memberi kemudahan dan seakan semua pintu terbuka lebar.
Januari tiba. Semua pengumuman psikotes di Desember belum juga keluar. Kejenuhanku mendera. Aku kembali ke Bandung dengan perjuangan yang sama; mencari pekerjaan. Mama dan bapak paham betul kalau aku merasa jenuh meski aku tidak pernah mengungkapkan kejenuhan yang mendera. Mama dan bapak selalu menasehatiku dengan sabar. Mengingatkanku untuk terus berusaha dan bersabar. Aa, teteh, Na, dan Epang juga menyemangatiku dengan rajin. Sungguh mengharukan. Mereka menyemangatiku dengan cara yang berbeda-beda. Aa yang menasehati dengan bijak, teteh yang menyemangati dengan candaan, Na yang selalu siap-antar jemput, dan Epang yang menyemangati sembari mengejek. Sungguh saudara yang luar biasa. Tidak lupa juga ada seseorang di sana yang selalu siap sedia mendengar keluh kesahku. Aku memang tidak berani mengeluh pada mama bapak, tapi padanya, aku mengeluh. Dialah bagian dari separuh hati. Dia juga yang selalu menyemangatiku dari kejauhan jarak. Belum lagi, aku punya Allah swt yang segalanya bagiku. Cukup bagiku.
Perlahan pengumuman psikotes datang. Mendadak dari Bandung aku harus kembali ke Jakarta karena ada panggilan interview di beberapa bank. Aku selalu berupaya untuk tampil maksimal. Kata Aa, ikuti semua tesnya dengan sungguh-sungguh, nanti petik panennya bersamaan. Semua tes sudah kuikuti sampai tahap akhir. Hampir di akhir. Bapak bilang, aku harus sudah punya keputusan mana yang akan kupilih. Bapak begitu optimis.
Tepat di Februari, satu Bank Syariah menghubungiku. Akhirnya kuputuskan untuk menimba ilmu dan pengalaman di bank yang sekarang tempatku bekerja. Sungguh menyenangkan. Kekeluargaan yang erat meski aku harus pulang diatas jam pulang kerja. Aku yakin. Ini adalah jodoh yang Allah swt siapkan untukku. Di sini, aku bisa belajar banyak hal. Baru saja dua minggu aku menjalani training, beberapa bank menelepon lagi untuk offering letter. Sungguh luar biasa. Bila memang waktunya tiba, Allah swt beri segalanya.
Yap! Banyak hal yang kupetik di masa penantianku. Ini dia beberapa poin-nya:
....... Hal yang aku sesali adalah: MENGELUH. Aku sempat membuat telinga dan mata abang panas karena harus mendengar dan membaca keluhanku. Tapi abang selalu mengingatkanku. Hingga akhirnya di pertengahan Januari, aku mulai menikmati aktivitasku di rumah.
....... Aku pernah merasa aku ini bodoh karena sulit mendapat kerja. Tapi kata Aa, dalam pekerjaan tidak ada yang bodoh dan pintar. Ini semua perkara jodoh. Kalau Allah swt sudah menghendaki kita berjodoh dengan satu pekerjaan, maka kita harus sabar menunggunya. Kata Aa, semua yang ada di dunia ini juga ada jodohnya. Termasuk diriku dengan pekerjaan yang sesuai.
.......Kalau waktunya tiba, semua akan datang tidak terduga. Begitulah faktanya. Aku harus yakin, kalau Allah swt selalu menyiapkan waktu tepat yang indah untuk menghadiahkan sesuatu bahkan segala hal padaku. Tinggal tunggu waktunya. Tapi juga harus BERUSAHA.
.......Tetap berupaya. Usaha memang penting. Tapi doa juga tidak kalah penting. Kalau terus berusaha tanpa berdoa… sungguh sombong sekali. pada dasarnya segala yang terjadi di dunia ini juga kehendak Allah swt yang sebanding dengan usaha kita.
....... Dan yang terakhir, kalau semua tawaran fix kerja datang, istikhoroh laaah. Pilih pekerjaan yang bisa meningkatan intelektualitas dan kapabilitas. hehehe

Sabtu, 23 Februari 2013

Barbie in the Pink Shoes





pict: http://farm9.staticflickr.com

Bercerita tentang seorang ballerina yang masuk sekolah balet. Katherin namanya.
Suatu hari, Katherin menari di atas panggung. Dia harus berlatih untuk pertunjukkan penting malam harinya dimana Institusi Balet Internasional akan hadir. Katherin yang terbawa suasana akibat dendangan musik yang merdu, kehilangan kendali, dia menari dengan koreografi yang diciptakannya secara spontan. Sang guru balet yang menginginkan segala hal sempurna sesuai perintah dan aturannya, gusar. Dia memberi peringatan langsung kepada Katherin. Katherin terkejut. Dia terjatuh. Sepatu balet kesayangannya rusak begitu saja. Sang manager-Heila, membawanya ke ruang kostum. Meminta bagian kostum mencari sepatu sesuai dengan ukuran kaki Katherin. Namun Heila tidak dapat menemukan sepatu yang tepat. Akhirnya, desainer di tempat kostum, memberikan sepatu balet yang indah. Sepatu balet berwarna pink. Katherin senang bukan main. Dia langsung melepas sepatu lamanya yang rusak, lalu menggantinya dengan sepatu baru berwarna pink yang berkerlap-kerlip gemilau.
Keajaiban terjadi seketika setelah Katherin mengenakan sepatu pink-nya. Ruang kostum berubah menjadi pedesaan yang hijau dan damai. Danau berwarna kuning keemasan terbentang begitu luas. Ada dua bangunan kuno namun tetap asri. Heila terkejut melihat penampilan Katherin yang berubah drastic. Katherin berubah menjadi Giselle. Giselle adalah seorang ballerina dari sebuah desa yang dikutuk menari sepanjang umurnya oleh seorang ratu salju yang kejam. Untuk menghilangkan rasa penasaran yang bersarang di diri masing-masing, Katherin dan Heila melangkahkan kaki menuju suara musik yang mengalun indah. Ternyata para warga desa tengah menari balet untuk menyambut musim panen. Musik hendak berhenti. Di saat musik berhenti, Giselle seharusnya keluar dari salah satu bangunan kuno yang berdiri di dekat danau. Barangkali itulah rumah tinggal Giselle.
Musik berhenti. Namun Giselle belum juga keluar rumahnya. Seorang pemuda tampan keturunan bangsawan menunggu Giselle keluar sesaat setelah musik berhenti. Giselle belum juga keluar. Tiba-tiba seorang wanita yang berambut putih keluar dari rumah Giselle. Seluruh warga dan sang pemuda bangsawan merasa kecewa karena Giselle tidak keluar rumah. Wanita berambut putih melihat-lihat sekeliling. Mencari sesuatu. Hingga akhirnya, mata wanita tua tertuju pada satu arah. Pohon besar. Dibalik pohon besar itulah Katherin dan Heila bersembunyi. Wanita tua memanggil Katherin dengan nama Giselle. Heila segera membuyarkan kebingungan yang mendera Katherin. Betul sekali. katherin berubah menjadi seorang wanita dalam dongen, Giselle. Dia mengenakan baju Giselle, berdandan seperti Giselle, rambutnya pun seperti Giselle, dan yang lebih penting, dia mengenakan sepatu pink milik Giselle. Heila langsung menyuruh Katherin yang menjadi Giselle untuk keluar dan menari secepatnya di depan seluruh warga. Katherin pun menari dengan indah. Seperti kebiasaannya, dia menciptakan gerakan-gerakan spontan yang indah.
Tarian berhenti. Seorang pria pemburu datang menghampiri Giselle yang dilamar oleh pemuda bangsawan. Mereka merebutkan Giselle. Terjadilah baku hantam yang cukup ramai. Giselle menghindar. Dia pergi begitu saja setelah Heila menarik tangannya. Tidak berapa lama, seorang ratu salju mendatangi warga desa. Dia meminta pemuda bangsawan dan pemburu untuk membawa Giselle ke hadapannya karena Giselle telah mengenakan sepatu berwarna pink. Sebelum pergi, ratu salju mengubah wanita tua menjadi batu. Giselle belum pergi begitu jauh. Dia bersembunyi dibalik pohon besar. Dia menyaksikan kekejaman yang dilakukan oleh ratu salju. Akhirnya, Giselle dan Heila memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mencari pintu untuk kembali ke kehidupan normal mereka.
Di tengah perjalanan, Giselle dan Heila bersitegang. Heila menginginkan Giselle melepas sepatunya. Tetapi Giselle menolak. Dia berlari dengan cepat. Hingga terhenti di sebuah danau berwarna biru. Heila tercengang setelah menemukan Giselle yang berubah. Baju yang dikenakannya semula berwarna biru dan pink, kini berubah menjadi pink keungu-unguan lengkap dengan gemerlap cahaya yang memukau. Danau berwarna biru berhasil menyihir Heila dan Giselle. Mereka menikmati pemandangan yang indah, meski mereka sendiri tahu, bahwa danau terbuat dari air mata orang tua yang anak perempuannya disihir menjadi angsa. Tiba-tiba, datang seorang pangeran tampan. Dia meminta Giselle untuk menari dengannya. Seperti terkena sihir yang luar biasa. Giselle dan pangeran menari sepanjang malam. Terbuai dalam romantisme kilat. Diakhir kemesraan pangeran tampan mengundang Giselle ke pesta dansa di kerajaannya. Penyihir jahat kaki tangan ratu salju yang mengetahui kalau Giselle yang mengaku bernama Odette juga diundang ke pesta dansa kerajaan, mengubah Odette dan Heila menjadi angsa. Mereka kebingungan. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Salah satu cara untuk mematahkan sihir adalah dengan menemukan cinta sejati. Odette yakin cinta sejatinya adalah pangeran. Untuk itu, Odette harus datang ke pesta dansa.
Odette dan Heila mengepakkan sayap dengan cepat. Terbang menuju istana. Ternyata benar. Penyihir mengubah anaknya, Odelia seperti Odette untuk mengelabui pangeran. Jika pangeran sampai mengutarakan cintanya kepada Odelia yang diubah menjadi Odette, maka Odette dan Heila akan berubah menjadi angsa selamanya. Beruntunglah Odette dan Heila datang tepat pada waktunya. Matahari terbenam. Odetta berubah menajadi manusia kembali. Kekaguman pangeran terhadap tarian Odetta membuat pangeran mampu mengenali Odette yang asli. Akhirnya dia mengutarakan keinginannya untuk menikahi Odetta. Sayang. Heila diculik oleh ratu salju yang datang ke pesta dansa kerajaan. Giselle kalap. Dia langsung berlari meninggalkan pangeran. Menuju tempat ratu salju untuk menyelamatkan Heila.
Di perjalanan malam yang dingin, Giselle menangis. Gelapnya malam memeluk Giselle dengan erat. Tiba-tiba terdengar suara kuda yang datang. Rupanya pemuda bangsawan dan pemburu. Mereka memutuskan untuk menolong Giselle menemukan Heila.
Singkat cerita, akhirnya Giselle dan dua pemuda desa sampai di istana ratu salju. Semua begitu dingin. Orang-orang di sekitar istana sudah diubah menjadi es batu. Mereka mematung. Giselle datang menghampiri ratu salju yang duduk manis di singgasananya. Ratu salju memainkan jarinya. Seketika Heila terlihat mengenakan gaun balet. Dengan perintah ratu, Heila menari hingga kelelahan. Tibalah giliran Giselle. Ratu salju menyihir Giselle untuk menari terus-menerus. Hebatnya, sihir ratu salju dapat dipatahkan. Giselle memang ingin menari, tapi tidak untuk mengikuti tarian yang diinginkan ratu salju. Giselle hanya perlu menari seperti yang dia inginkan. Gerakan tari balet yang berhasil dia lakukan, membuat ratu salju kalah dan menghilang di dinginnya istana. Giselle melepas sepatu balet pink-nya.
Katherin dan Heila merasa bahagia sudah berada di ruang kostum. Tara – rekan balet Katherin, menghela napas lega karena berhasil menemukan Katherin. Waktu pertunjukkan Katherin 15 menit lagi. Heila langsung mengambil beberapa kain. Membuat gaun untuk Katherin.
Nama Katherin dipanggil ke atas panggung. Katherin berhasil memukau para penonton dengan koreografi spontan yang serasi dengan musik. Meski guru baletnya merasa geram akibat ulang Katherin, Katherin tidak peduli. Dia terus saja menari hingga musik selesai. Siapa sangka. Ternyata orang-orang dari Institusi Balet Internasional menyukai penampilan Katherin. Guru balet Katherin pun meminta maaf ke pada Katherin. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk membebaskan muridnya berkaya dengan ide masing-masing.

Sungguh film yang luar biasa. Ada beberapa poin positif yang sebenernya pengen aku sampaikan ditulisan kali ini, terkait dengan film dan dari mana asal film ini.
§  DVD film ini diberikan oleh kakakku tersayang. Baru saja sampai di rumahnya, Aa memberikan beberapa buah DVD yang Aa beli di kantor. Sungguh terharu. Aa masih saja ingat kalau adiknya suka dengan film Barbie. Kakak yang sangat luar biasa.
§  Kita harus membebaskan orang lain, siapapun itu, mengekspresikan ide-ide yang ada di kepalanya. Karena bisa jadi ide tersebut akan menjadi sangat brilliant. Yang perlu kita lakukan adalah mendukung dan mengawasi mereka.
§  Tidak selamanya mengikuti aturan itu baik. Terkadang, kita perlu membebaskan otak kita untuk bisa menciptakan kreativitas lain. Aturan memang baik, tapi aturan juga yang akan membatasi kita dalam berkarya. Jadi, harus diingat, cari celah dari aturan bukan untuk melanggarnya, tapi justru untuk berinovasi.
§  Dan yang terakhir, kita yang hidup. Kita yang punya cerita. Kitalah yang mengubahnya. Ada Allah swt di setiap langkah kita. Tapi aku juga selalu percaya bahwa Dia memberikan wewenang sedikit saja bagi kita untuk mengubah akhir cerita kehidupan kita. Jadi jangan buat akhir yang menyedihkan. 

Minggu, 09 Desember 2012

Behind The Pictures

Tiada pernah ada kata "BOSAN" dalam hidupku. Setidaknya sejak aku dinyatakan lulus menyelesaikan studi S1 September lalu. Di rumah, aku selalu berupaya untuk tetap produktif. Tadi siang, kubuka Nebu dengan mesra. Kubuka setiap folder yang memenuhinya. Satu folder yang menarik Foto > Friends > Rangkas. Momen bersama kalian adalah momen yang selalu indah. Mengamati satu per satu foto yang terpampang di layar Nebu. Mengingat kejadian lucu dibalik foto.
Salah satunya sangat sulit untuk mengambil foto ini:


untuk mencapai foto ini, sangatlah rumit. akulah biang keroknya. hahay. Perhatikan tangan setiap orang di dalam foto. Na, Uwi, Napi, dan Ijal. Semua tangannya biasa saja. Lihat tanganku! Tangan kanan mengangkat! Selesai foto, Na langsung berteriak "Haih! Tangan Ni nya tuh!" lalu kami tertawa senang. Mereka heran dengan kelakuanku..

Foto pertama kami sebelum menghasilkan foto di atas:


see? selalu aku yang mengacaukan hasil foto. 
tapi tahu tidak? itulah yang meramaikan. :))

Minggu, 25 November 2012

Terima kisah kasih


Hari ini euphoria kelulusan mencuat ke permukaan. Aku yakin. Setiap wanita pergi ke salon pagi-pagi sekali untuk didandani bak seorang selebritis. Setiap lelaki pun pasti sudah menyiapkan jas dan celana terbaiknya masing-masing.
                Mereka semua sepertinya tersenyum bahagia. Tapi aku menangis sengguk. Membayangkan mungkin hari ini adalah hari terakhir aku dapat berjumpa denganmu, melihat senyumanmu, berdiri di sampingmu, dan segala hal yang biasa kulakukan denganmu.
                Hari ini juga adalah akhir dari perjalanan fase kehidupan yang satu, menuju gerbang fase kehidupan yang lain. Setiap dari kami berkeinginan untuk mendapatkan penghidupan yang layak setelahnya. Untuk itu kami pergi merantau, mengejar ilmu setinggi mungkin di dunia formalitas. Mama, Bapak, Aa, Teh Nengni, Teteh, Aferdi, Na, Epang, dan Panjul, terima kasih untuk dukungan dan doa kalian. Untuk kalian, bukan tulisan ini sebagai ungkapan terima kasih, tapi lebih.
                Selama tiga tahun… banyak sekali suka yang kulewati. Duka pun adalah sukaku. Mulai dari pertemuan dengan beberapa sahabat dengan cerita dan keunikannya masing-masing, bergabung dalam sebuah lingkaran keluarga lain, permasalahan yang penuh pelajaran dan hikmah, serta pertemuan indah dengan kamu.
                Berat hati sebenarnya harus meninggalkan dunia yang selama tiga tahun sudah kulewati. Bagaimana tidak… di dunia baru tersebut, aku bertemu dengan Oma si sensitif yang keibuan berhati rapuh, Ayu si labil yang bijak, Ade si ramai yang penuh perhatian, Mpok si tomboy yang feminine, belum lagi ada Martina atlet yang baik hati, Khalid sang sahabat berhati sensitif namun bijak, Hana sang penolong dengan bukunya, Madihah Salwa si ibu GM yang baik hatinya dan tidak pernah sungkan untuk direpotkan, NII sang pencerah, Triska si penjual Tupperware (hehe), Om yang pandai berbicara, Adit si pemilik buah tangan, Adrian yang selalu memanggil Vani bana-bana, Halim si pejuang yang pantang menyerah, Hafiz si pandai dengan candaan menarik, Anis si pintar yang baik budinya, Endah si feminine yang cantik, Adit sang pemberi buah tangan yang tulus, dan ada Rolan Pranando. Si abang yang cuek, dingin, tapi dewasa dan bijak. Ada juga Rahmat dan Azmi yang sudah menemani sidang.
                Bukan cuma mereka, masih ada beberapa orang yang kutemui, mewarnai indahnya hidup selama tiga tahun. Fitri Mulyani. Teman seperjuangan yang pantang menyerah. Di detik-detik akhir pengumpulan skripsi. Maju terus Mpit mengejar pembimbingnya. Bukan cuma itu. Aku belajar bersyukur darinya. Ketika apa yang terjadi tidak sesuai harapan, Fitri tetap berucap syukur dengan wajah bahagianya. Di tengah kerisauannya menyelesaikan revisi skripsi, Fitri berhasil dengan baik. Maynina Norshela. Semoga tidak salah menulis namanya. Ini wanita luar biasa yang kutemui. Sangat luar biasa. Kehidupan pribadinya yang rumit tidak menjadikannya sebagai sosok wanita penyedih. Nina terlihat sangat tegar dan ceria. Walaupun Nina polos, dia adalah pejuang yang pantang menyerah juga. Darinya aku belajar untuk tidak pernah menunjukkan kesedihan pada orang lain, darinya aku belajar bahwa hidup harus terus berjalan, darinya aku harus belajar untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Ada lagi. Rafika Mardilasari. Ini dia! Sejak awal kami berjuang bersama. Mulai dari rebutan pembimbing (hehe) sampai akhirnya kami selesai bersama. Fikong ini penuh kasih sayang. Pancaran matanya sangat tulus. Darinya aku belajar bahwa segala hal ada konsekuensinya. Aku juga belajar untuk tidak pernah mempedulikan orang yang tidak mendukung kita, dari seorang Fikong. Fikong wanita yang luar biasa. Cinta kasih selalu menyelimutinya. Ada juga Nastiti. Nanas orang yang asik. Melihatnya tidak berhenti aku mengangkat satu kata: kagum. Ketenangannya luar biasa. Dialah wanita tenang yang selalu kukagumi. Ratih. Hei. Wanita ini si pemilik otak emas. Kepintaran akademisnya oke. Aku bersemangat setiap kali mendengarnya bercerita. Ada aura lain yang terpancar dari wajahnya. Paskarinda. Si cantik bersuara unik. Paska pantang menyerah. Walau sulit sekali mendapatkan objek untuk penelitian, paska tidak pernah mundur. Dia selalu maju. Darinya juga aku belajar kerendah hatian. Yang terakhir, ada Fenny. Fenny ini time manager yang mantap sekali. Ditengah kesibukannya berorganisasi (apa ya nama organisasinya? Tapi yang jelas… organisasi yang menghantar anggota nya keluar negeri gitu. Hahha) dia bisa menyelesaikan studi dengan cepat. Semula melihat Fenny, aku pikir, dia orang kaya yang senang membanggakan kekayaan orang tuanya. Tapi ternyata TIDAK. Fennya adalah potret wanita dewasa yang mandiri. Senang rasanya bertemu dengan kawan bukan kawan, tapi sahabat seperjuangan seperti mereka.
                Dalam tulisan ini, aku juga mau mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman di Embun. Kita adalah embun yang menyegarkan di pagi hari. Yang tidak jua pernah hilang di makan zaman. Kita adalah embun, bening, bersih, dan suci. Semoga hati kita seperti embun. Buat Doni, terima kasih bunga dari TM 2010-nya. Buat Uti, Mayang, Pucu, Bimo, Bari, Reza, Adit, Alwin, Nino, Surya, Acha, Tambunan, Boy Rahman, Nadia, Risti, Dea, Pipit, dan yang terakhir, terima kasih untuk Vinda yang kemaren sudah menyelimuti dan memelukku dengan hangat. Akhirnya bisa tidur dengan nyenyak sampai subuh :D
                Ada juga sahabat lain yang berhak menerima ucapan terima kasihku. Dukungan kalian selama ini luar biasa. Sangat luar biasa. Sahabat-sahabat GAMUS. Heni, Eka, Nita, Dita, April, Tomi, adik-adikku: Nikki, Tri, Devita, Fira, Titin, dan semua pihak yang tidak pernah bisa kusebutkan satu per satu. Bahkan ucapan terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas dukungan kalian semuanya.
                Yang paling berkesan belakangan ini adalah… bergabung dengan sahabat di UKBM. Ini berkat abang. Terima kasih abang karena sudah mengenalkanku pada dunia lain yang indah. Mereka sangat baik. Semua “Welcome”. Ada Fifi, Je, Vepe (istri pertama abang. Hehe), Manda, Dina, Mega, Ocha, Riska, Jimmi, adikku tersayang: Eka, dan semuanya. Mereka keluarga baru bagiku. Rasanya berat juga harus berpisah dengan mereka. fiuh.
                Buat akang-akang yang selama ini juga memberi dukungan, ada Kang Ardhi, Mas Daus, Kang Adi, Kang Almi, Kang Ramdan, kang Akbar, dan Kang yang tidak mau disebutkan namanya. Hahaha. Bu Norita juga. Terima kasih ibu. Sudah menjadi ibuku yang membimbingku menyelesaikan tugas akhir dengan indah. Terima kasih juga sudah memberikan dukungan yang paling baik. Aku selalu ingat, ibu pun berjuang agar aku bisa lulus 3 tahun. Terima kasih ibu. Ada aku dan ibu, menjadi kita.
                Yang terakhir, teman-teman kelas J. ada Yeula, Yovita, Auva, Anisah, Febri, Alen, Ekki, Agung, syifa, Inki, Nisa, Dita, Nurul, Putri, Ayulia, Aris, Ulil, Icapalu, Rully, Deta, semuanya.

Kalau boleh memilih untuk menetap di sini atau pergi, barangkali aku akan memilih untuk menetap di sini, tapi sahabat, impianku lebih besar. Hingga akhirnya impianku sendiri yang mengharuskanku untuk pergi lalu berlari secepatnya.

Jumat, 23 November 2012

Cukuplah hari ini air mata mengalir dalam hati. Semoga esok pun demikian. Hari yang menyegarkan. Wajah rasanya selalu berkilau. Aku senang berjalan kaki seharian. Tadi pagi, pergi ke Pasar Baru, janjian dengan Fikong untuk menemaninya mencari barang-barang kebutuhan lain. Karena STNK motor mau diperpanjang, akhirnya aku pergi dengan angkutan kota. Aku naik angkot Cadas-Elang ke King. Dari king, aku berjalan kaki menuju Pasar Baru. Kata Abang, jaraknya jauh. Tidak bagiku. Sangat dekat. Senang hati berjalan-jalan walau sendiri. Karena kelak, aku akan sangat jarang untuk bisa berjalan dipinggiran Jalan Otista. Kaki terus melangkah dengan semangat sembari memperhatikan lingkungan sekitar. Melihat pedagang-pedagang yang siap melakukan pertunjukkan, yaitu menunjukkan dan menjajakkan segala barang dagangannya masing-masing. Menyebrang sedikit ke kiri, aku langsung sampai di Pasar Baru. Cukup lama menunggu Fikong. Tapi cukup sebentar juga bagiku untuk memperhatikan lingkungan sekitar. yang lagi-lagi mungkin akan sangat jarang kulihat juga. 
Berapa lama, Fikong datang. Mulailah perjalanan kami dari satu toko ke toko lain. Mengacak-acak seluruh isi Pasar Baru. Lelah? Ya! Tapi sangat menyenangkan. Barangkali akan menjadi kali terakhir aku bisa mengacak-acak Pasar Baru :))
Singkat cerita, jam 13.00 WIB kami tiba di kelapa untuk akhirnya naik angkot menuju STT. Namanya sekarang ITT. satu demi satu penumpang masuk ke dalam angkot berwarna orange tersebut. Lagi lagi aku senang... Fikong bilang tiada kelelahan di wajahku. Memang. 
Kami tiba di kampus untuk mengikuti Gladi Bersih wisuda esok. Satu semester yang lalu, momen wisuda sangat kunanti. tapi kini? Sedih rasanya.... Apapun perasaan hati. Yang jelas aku harus bersyukur atas semua anugerah Allah...
Bla bla bla
Selesai sudah gladi bersihnya. Aku melanjutkan ke Mushola. Sholat disana, lalu pergi menuju kosan Eka. Menitipkan laptop Abang. Pulangnya? Naik angkot sendiri. Momen yang kurindu sejak lama. Aku naik angkot jurusan Kalapa - Dayeuh Kolot. Karena mobilnya tidak sampai perempatan terusan buah batu. Aku memutuskan turun di Pasar Kordon. lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Aku berjalan dari serbang Pasar hingga ke Ayam Lepas di Soekarno Hatta. Sengaja. Aku terlalu takut untuk berhenti menunggu angkot. Aku lebih memilih. Sekali lagi. Aku selalu takut harus naik angkot tengah malam. Hingga kaki terasa lelah. Aku menghentikan angkot berwarna merah dengan nomor 05 yang mengarah ke Kiara Condong. Aku terus memeluk tas yang kubawah. Duduk di dekat pintu mobil. Sebab, aku masih trauma kejadian dulu. Aku sangat takut. 
Intinya adalah... aku suka berjalan memperhatikan lingkungan sekitar, untuk nanti dapat berlari lebih cepat :)

Rabu, 14 November 2012

Learning

Ini pelajaran yang aku (sebenarnya masih mencari jati diri, manggil "aku" atau "gue". Karena sepertinya ini tulisan rada resmi, jadi pake "aku" saja) ambil beberapa hari lalu. 
Kita ini hidup dan dewasa dari pengalaman bukan? Yap! Sebenarnya dewasa bisa diraih bukan hanya proses pembelajaran dari pengalaman pribadi, tapi juga pengalaman orang lain.

Beberapa waktu lalu, aku dan kedua teman perempuan tengah bercengkrama di kantin kampus tetangga. Di sana sang wanita 1 sebut saja namanya A, bercerita tentang seseorang lain yang menghampiri kehidupannya di tengah jalinannya dengan akang. Sedang teman wanitaku yang 1-nya lagi, tengah asik menyimak sembari menunjukkan dirinya tidak paham. Padahal aku tahu betul, bahwa dia mengerti apa yang aku dan A bicarakan. 

Kita mulai ceritanya... A punya seorang akang. Mereka sudah lama merancang masa depan bersama. Dengan ketulusan, akang menunggu A sampai mendapat kerja nantinya. Di tengah berkobarnya kisah kasih mereka, muncullah seorang pria, sebut saja namanya Mas. Nah... Mas ini sudah mapan, begitu katanya. Bukan cuma mapan, mas rela pulang pergi Jakarta-Bandung untuk menemui A. Ketika perhatian Akang mengendur, Mas memberikan perhatian lebih intens. Mas bilang, selama janur kuning belum melengkung, Mas masih ada kesempatan untuk maju terus pantang mundur (yang maju terus pantang mundur itu tambahan dari aku ya. Hehe). Alhasil, hati A tergoyah sudah. Walau belum sepenuhnya. Ketika dia mulai memikirkan Mas, artinya A hampir saja tergoyah hatinya. A bilang, Mas lebih intens menghubungi A ketimbang Akang, Mas lebih perhatian ketimbang Akang, dan seterusnya. A sudah jalan dengan Akang selama 4 tahun, sedangkan sama Mas, dia sudah berteman selama 2 tahun. Eits! Ini bukan perselingkuhan. Ini sebuah pertemanan. 

Titik. 
Segitu cerita dari aku. 
Jadi beginilah hidup memang...
Banyak orang yang bilang persaingan ketat. Betul sekali. Bukan cuma antarperusahaan untuk memperoleh profit sebanyak-banyaknya tapi juga untuk mendapatkan pasangan hidup. 
Masalah A tadi adalah... Akang yang kurang perhatian. Kurangnya perhatian ditunjukkan dengan kurangnya intensitas sms, nelpon, dan upaya untuk pertemuan. Yang dibutuhkan seorang wanita bukan cuma kemapanan, tapi juga perhatian, dalam bentuk apapun. Mungkin aku juga tergoda jika bernasib seperti A tadi. 

Ingat lagi perkataan Pak Mario Teguh: "CINTA YANG JAUH DAN JARANG BERTEMU AKAN DIGANTIKAN OLEH CINTA YANG DEKAT DAN AKRAB." Jadi sesering apa berkomunikasi via sms, telpon, or something like that, kalau kita tidak mengupayakan pertemuan, ya Wassalam.
Di sini aku bicara tentang sepasang kekasih sebelum menikah loh ya. Jadi, ketika segala upaya dilakukan untuk menjalin komunikasi, tetapi sama sekali tidak mengupayakan pertemuan, yakin deh, kelak waktu berakhirnya hubungan akan tiba.
Belum lagi, aku lebih menghargai orang yang tetap berupaya menghubungiku di tengah kesibukannya yang bergejolak. Jadi tuh ya... Kalau pasangan bilang sibuk sehingga tidak bisa menghubungi kita... mmm... tariklah kesimpulan sendiri. Bukan tidak menghargai, tapi rasanya gemes aja. Bukan juga tidak pengertian, tapi cobalah dengan hal sederhana, ketika sibuk, utarakan kesibukan yang tengah dikerjakan... utarakan... beri perhatian yang sederhana saja. Tidak perlu waktu lama kok untuk sms dan menanyakan sudah makan atau belum, sehat atau tidak, dan tidak perlu waktu lama juga untuk mengatakan pada pasangan bahwa "aku sedang ngerjain ini dulu" atau "aku sedang rapat". See? Tidak perlu waktu lama bukan? karena untuk menimbulkan pengertian, harus ada keterbukaan satu sama lain. Sekalipun hal yang terperinci.
Seperti yang pernah dikatakan saudari kembarku, bahwa pasangan yang tidak menghubungi kita, dia sedang berusaha dan berupaya dalam kegiatannya hari ini untuk masa depan dengan kita. Iya kali buat kita. Tapi kembali lagi, jangankan yang tidak berkomunikasi dan tidak bertemu, yang berkomunikasi via teknologi namun tidak bertemu saja masih banyak yang gagal.

Intinya...
Harus ada upaya dari kedua belah pihak dalam menjalin hubungan. Bukan cuma dari prianya saja, atau dari wanitanya saja. 
Hanya saja... Kadang wanita selalu ingin dihampiri lebih dulu :)
Oh iya. Dan satu lagi. Seperti yang pernah dikatakan seorang Pak Ustadz (lupa nama) bahwa ketika wanita ditanya "ada apa?" dia menjawab "Tidak ada apa-apa" yakin deh. ada sesuatu sebenarnya :)

Oh iya. Tulisan ini murni pendapatku pribadi, jadi jangan di-generalisasi ya... :)

Minggu, 11 November 2012

My Pride


Belakangan gue selalu ngerasa ragu buat jawab pertanyaan: "Prestasi apa yang paling kamu banggakan?" Akhirnya gue tanya langsung sama Mas di sana. Beliau bilang, jawabannya bisa memang prestasi atau effort sebesar apa yang sudah gue perbuat dalam hidup gue.
Menurut gue, prestasi yang gue raih itu banyak. Gue bisa bangun pagi, nggak telat sholat subuh, makan tepat waktu, tepat waktu ke kampus, disiplin, itu semua prestasi buat gue. Lagi-lagi persepsi gue salah. Mas bilang, maksud dari prestasi itu ya... achievement kita. Akhirnya gue memutar otak dengan keras. Selama kuliah, prestasi gue... sangat sedikit. Bahkan lima jari pun mungkin masih terlalu banyak buat menghitung prestasi atau pencapaian yang pernah gue raih.
Gue nggak pernah dapat penghargaan di acara-acara yang kampus adain. IPK gue juga jauh dari Cum Laude. Oh atau mungkin standar Cum Laude kampus gue yang terlalu tinggi ya? Ah gue nggak mau nyalahin kampus. Yang ada sih gue yang nggak belajar sungguh-sungguh, gue yang memilih buat nggak mengukir prestasi.

Tapi kalau bicara prestasi... gue mau bilang, dengan senang gue bilang, prestasi gue itu waktu gue bisa berbagi pada sesama. Berbagi hal positif itu menjadi prestasi yang sangat murah. Nggak perlu juga gue ngeluarin duit. Gue bisa membagi banyak hal, tenaga gue, pikiran gue, ilmu gue, dan pulsa gue buat sms-in teman-teman gue...
Gue senang bisa membagi ilmu walau ilmu yang gue punya sangat sedikit, gue yakin, sedikitnya ilmu gue, bakal bertambah kalau gue mau membagi yang sedikit itu. That's why gue nggak pernah bisa nolak atau kalaupun nolak terpaksa, permintaan buat jadi tutor sebelum UTS di salah satu organisasi yang gue ikutin. tapi gue juga nggak suka kalau dipanggil tutor, gue lebih suka namain agenda organisasi tersebut dengan nama "Belajar Bareng". kalau buka bareng di bulan puasa namanya Bubar, gue namainnya Bebar aja.
Gue juga paling nggak bisa nolak tawaran buat ngisi keputrian di kampus.. kalaupun gue nggak bisa, gue cuma nunda waktunya saja. Hei! gue nulis ini bukan buat sombong. Gals, ilmu gue ini masih seumur jagung, ealaaaah kayaknya nggak seumur jagung juga deh, lo tau tanaman umbi-umbian yang menjalar di tanah? Nah itu die tingginya ilmu gue, alias masih tiarap, mepet sama tanah. means gue bener-bener masih awam dan harus banyak belajar banyak belajar banyak belajar lagi lagi lagi.
Jadi, gue yakin, siapapun yang baca tulisan gue, pasti dia ilmunya lebih tinggi dari gue. Nah ya... gue aja yang ilmunya tiarap mau berbagi, jadi buat kawan semua yang ilmunya setinggi pohon cemara, silahkan membaginya, dijamin nggak bakalan rugi.

Hal yang membanggakan buat gue ya? Nggak ada! Bukan berarti gue anggap diri gue rendah or something ya. Gue mau bilang sesuatu, yang ikut keputrian di kampus kemaren pasti ingeett!!!!
Hal yang paling buat gue bangga itu... KALAU BUAT ORANG TUA GUE BANGGA DAN BAHAGIA KARENA GUE, KALAU BUAT SEMUA ORANG SENYUM LEGA ATAS APA YANG GUE PERBUAT.
see?!
Buat orang tua gue, gue bakal ngikutin semua mau mereka selagi dalam jalur yang lurus, gue juga bakal ngelakuin sebanyak-banyaknya hal positif cuma buat mereka bangga. Gue selalu ingin buat mereka menangis bahagia. Gue selalu menanamkan dalam diri gue, bahwa motivator terhebat buat gue ya diri gue sendiri, tapi motivator pun digerakkan oleh sesuatu. Dan penggerak diri gue sendiri adalah Mama-Bapak. Setiap gue mau main padahal seharusnya nyusun scriptsweet, gue ingat Mama-Bapak yang terus menua, yang harus bersesak dada untuk cari uang ngebiayain kuliah gue. Setiap nilai UTS atau UAS gue jelek, gue selalu merasa bersalah waktu Mama-Bapak bilang: "Ya nggak apa... Yang penting Ni udah berusaha..."
Yap! Buat gue, ridho orang tua kan ridho Allah juga. Nah gue juga mau menggapai ridho Allah, jadi setidaknya gue gapai dulu ridho Mama-Bapak...
oh iya. Gue tahu... untuk saat ini, gue juga bukan wanita solehah. Tapi nggak salah kan kalau gue punya cita-cita menggapai cinta Allah dan salah satu sarananya adalah menjadi wanita soleha. Wanita soleha memiliki ciri, menaati Allah dan Rasulullah, gue yakin, ketika gue membahagiakan orang tua gue, gue masuk dalam kategori salah satu cara menaati perintah Allah. So... sekali lagi gue mau bilang, bahwa kebanggaan gue adalah membuat orang tua gue bangga dan bahagia karena gue.