Senin, 20 Agustus 2012
Minggu, 19 Agustus 2012
Idul Fitri Pertamaku
Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Allah Maha Besar... Allah Maha Besar.... Allah Maha Besar...
Indahnya takbir berkumandang.
Mengudara mengisi seluruh lapisan bumi ini.
Seolah mengganti oksigen yang beredar.
Hari ini sangat indah
Hari ini sangat damai
Allah memberikan kesempatan kepada kami untuk memulai segalanya dari nol, membenahi kehidupan kami yang sempat berantakan.
Pagi tadi tepat pukul 06.00 WIB, bergamis pink aku, mama, Vina, teteh, dan teh Nengni (kakak ipar) pergi ke masjid Ar-Rumi. Vina menggelar karpet ungu yang kami gunakan untuk melaksanakan sholat Idul Fitri. Singkat cerita, aku bersyukur dapat menjalankan sholat dengan sangat khidmat. Tidak ada "heai-an" seperti tahun-tahun biasanya karena kurang tidur. Selesai sholat, ada khutbah yang disampaikan khatib. Aku pribadi tidak terlalu suka dengan khutbah tersebut; intinya menyalahkan pemerintahan, tanpa mengajak kami untuk mendukung pemerintah dengan berpartisipasi dalam kegiatan positif.
Selesai khutbah, setiap jamaah menyampaikan permohonannya pada Sang Pemilik Alam Jagat Raya ini. Aku menangis, mengingat kebodohan dan dosa yang kulakukan beberapa waktu lalu. Dosa besar yang selalu kutangisi dalam setiap do'aku. Baiklah... Memang Allah Maha Pengampun. Aku taubat dari dosa dahulu yang kulakukan. Tapi bukan berarti aku mudah melupakannya. Kata Vina, aku ini orangnya melankolis. Selalu mengingat masa lalu...
Kesimpulannya, Idul Fitri selalu menyenangkan. Semua anggota keluarga berkumpul. Tawa selalu menyelimuti kebersamaan kami. Rasanya enggan beranjak dari rumah :)
Tapi ada yg berbeda.
Idul Fitri kali ini, kami sekeluarga tetap di Bandung. Biasanya setiap tahun kami melewati Idul Fitri di Cilaki. Sebuah daerah tidak begitu kecil di Kabupaten Lebak. Di Cilaki, nenekku yang sudah renta hidup seorang diri. Yah.. Idul Fitri kali ini aku lewati di Bandung. Karena aa ingin pulang ke Bandung. Jadi ini menjadi Idul Fitri pertamaku di Kota Kembang
Kamis, 16 Agustus 2012
Surat ucapan
dua tahun lalu, sebuah surat ucapan terima kasih menepi di depan pintu rumah, di kampung halamanku.
ternyata itu dari kamu. bukan hanya surat. di dalamnya ada cokelat kesukaanku dan sebuah kado berisi tasbih berwarna cokelat jua.
Senin, 13 Agustus 2012
Rabu, 08 Agustus 2012
Masalah Vs. Keluhan
membaca sebuah buku. tiba-tiba
terperana. menyadari satu hal; bahwa yang sering kulakukan adalah
mengeluh. aih. manusia. Alhamdulillah dikasih kesempatan sadar
belakangan. dari pada nggak sadar-sadar.
terkadang kita suka mengatakan, "masalah lagi masalah..." atau "ada aja lagi masalah..." atau "ko ada masalah terus ya?"
harus
kita resapi sama-sama, bahwa masalah adalah suatu keadaan yang timbul
JIKA KENYATAAN YANG TERJADI TIDAK SESUAI DENGAN EKSPEKTASI KITA. sebelum
kita menyatakan bahwa yang kita hadapi adalah sebuah masalah, kita
harus dapat membandingkan kenyataan yang terjadi dengan ekspektasi kita
terhadap suatu hal. Nanti muncul gap. gap itulah yang menjadi masalah
dalam hidup kita. ketika kita bisa mengidentifikasi masalahnya dengan
baik, maka kita akan memperoleh rangkaian kata yang dapat menggambarkan
masalah tersebut. ketika orang lain bertanyapun, kakan dengan mudah kita
menyampaikan masalah tersebut. sekali lagi karena kita sudah berhasil
mengidentifikasinya lalu menggambarkannya.
JIKA
KITA TIDAK BISA MENGGAMBARKAN MASALAH KITA, HATI-HATI! JANGAN-JANGAN
KITA HANYA MENGELUH. yah... begitulah... sebenarnya masalah itu tetap
ada, tapi datangnya dari diri kita sendiri; MENGELUH. mengeluhlah
masalahnya. tetapi masalah disini berbeda dengan gap yang tadi aku
katakan.
rasanya
aku sudah terlalu sering mengeluh. mengungkapkan suatu masalah yang
sumbernya adalah diriku sendiri. bukan masalah karena adanya gap antara
kenyataan dan ekspektasi. hhhmmmm....
setelah
sadar kalau itu mengeluh, aku tengah berupaya mengurangi pengeluaran
keluhan dari hati yang lalu terungkapkan melalui mulut. mulut ini kan
ciptaan Allah, sayang sekali nampaknya kalau hanya digunakan untuk
mengeluh. dengan mengeluh juga, aku akan cepat lelah... tidak akan ada
buah manis yang tumbuh dari pohon keluhan. hal lain yang ingin
kusampaikan, ketika waktu lalu aku harus mengorbankan banyak "sesuatu"
dalam hidupku untuk dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya.
jika aku terus mengeluh, niscaya skripsi tersebut tidak akan bisa
selesai tepat pada waktunya. karena jiwa dan raga telah mengalami
kelelahan luar biasa akibat kegiatan sia-sia ; MENGELUH.
mulai
sekarang, aku tidak akan mengeluh lagi. mulai bijak memilah mana
masalah mana keluhan. sehingga kelak aku berharap keluhan itu tidak akan
muncul lagi ke permukaan.
Selasa, 07 Agustus 2012
cerita lalu
Akhirnya menulis lagi. Setelah 3
hari berpetualang di Kota Metropolitan, aku kembali ke kota kembang
tepat pukul 15.30. Dijemput oleh dia yang dulu ada di ruang khusus hati
ini. Terimasih. kini silaturahim kita tetap terjaga. karena kamu sudah
kuanggap sebagai kelaurga. :)
Teringat perbincangan dengan Na beberapa waktu lalu sebelum ke Jakarta;
Na
: "Ni, udah saatnya loh kamu pilih seseorang yang mapan lahir batin
terus mulai deh membina masa depan barengan kaya Na sama ***."
Ni : "Ah elah na... aku kan belum nemu."
Na : "Siapa kek gitu. si *****. Kayanya baik. Nggak kurang ajar. Biar kita bisa nikah sama-sama."
...
..
.
Aku
terdiam. Kabita (kepengen) kaya Na sebenarnya, yang sudah punya
seseorang untuk diajak serius membina mahligai perkawinan di masa depan.
Tiba-tiba aku mulai memikirkan perkataan saudari kembarku semalaman
hingga mata terpejam.
Tenggelamnya
aku dalam dunia pemikiran membuat tangan mengetik serangkaian nomor as.
Menceritakan apa yang baru saja dikatakan oleh saudari kembarku itu.
Dia yang di sana mulai merespon. Entahlah. Dari text-nya kusimpulkan
bahwa ia tengah mengkhawatirkan kemapannya saat ini. hmmmm....
rasanya....
Pikiran akan
seseorang yang mapan lahir batin untuk meniti masa depan bersama,
rasanya... sudah menghanyutkan alam lamunku begitu jauh. Mulai penasaran
siapa sesungguhnya sosok yang telah disiapkan Allah untukku di kemudian
hari. "Ah! apaan sih! bukan waktunya galau gara-gara masa depan yang
belum pasti kaleee... sekarang mah yang penting fokus melakukan segala
yang terbaik. memapankan batin dan lahirnya pribadi dulu, baru bakal
dapet yang mapan juga." Tekadku dalam hati.
Seketika pikiran yang tadi membuaiku melesat pergi, menghilang entah kemana.
Aku
selalu percaya janji Allah di QS. An-Nur, yang menyatakan bahwa
perempuan baik-baik hanya untuk laki-laki yang baik pula. Mungkin
begitupun dengan kemapanan. Jika lahirku sudah mapan, insyaAllah Dia
akan menyiapkan seseorang yang telah mapan untukku. Terlebih jika
batinku mapan, aku yakin, Dia pun akan kirimkan seseorang yang batinnya
telah mapan jua.
Mengapa
aku harus mapan? mapan yang menjadi target dalam hidupku bukanlah
sampai punya rumah atau mobil. maksudnya, aku tidak perlu harus punya
rumah dan mobil baru menikah. tapi setidaknya, aku harus bisa mandiri
dari segi keuangan. aku harus bisa mandiri dalam kehidupan, segala hal.
mengurus diri sendiri dengan mandiri dari berbagai aspek. dengan begitu,
aku akan menikah.
Mapan
batin. hey! menikah bukan cuma uang. haruslah ada ilmunya. haruslah
niatnya yang baik, yang semata-mata karena Allah. jika tidak. nafsu deh
yang akan menuntun pernikahan kelak. nah... aku ingin memapankan batinku
dulu. mencari ilmunya yang sesuai dengan syari'at. aku ingin sekali
menjadi istri yang kelak menunggu suamiku di surga dengan gelar bidadari
surga. aku ingin. untuknya aku harus mempersiapkan, meniti, dan
mengokohkan niatku menikah untuk menyempurnakan sebagian ibadahku.
Aaahh.. rasanya kalau bicara tentang pernikahan, selalu saja ingin segera menggapainya. Tapi aku harus bersabar. Menunggu seseorang di sana. Kalau memang dia jodohku, Allah akan segera kirimkan dia untukku dalam keadaan sebaik-baiknya.
Langganan:
Postingan (Atom)
CiHuUyYY,,(599).jpg)
CiHuUyYY,,(606).jpg)
.jpg)
CiHuUyYY,,(605).jpg)
.jpg)


