Kamis, 17 Juni 2010
perubahan
akhirnya... aku menginginkan sesuatu yang seharusnya tidak kuinginkan. aku menginginkan sosok dan kehidupan yang ada dalam novel tebal itu. aku terbuai. seolah hidupku sangat menyedihkan jika tidak sesuai dengan buku itu.
astagfirullah... sependek itu jalan pikiranku. akhirnya, imajinasiku terbatas oleh hal2 yang jauh dari daya talarku. sesekali memang aku suka membaca novel-novel islami. tapi bukan norma yang aku perhatikan. melainkan hanya kisah cinta yang mengalun bagaikan melodi indah.... lagi-lagi imajinasiku terkukung oleh batasan dari novel itu. astagfirullah... itu membuat aku berpikir, hidupku tidak seindah novel itu.
sekarang..aku senang sekali membaca novel islami. bukan kisah cinta atau sejenisnya yang aku perhatikan lagi. tapi pesan di dalamnya. sangat menyentuh. membuka mata hatiku terdalam.. subhanallah... buku sekecil itu mampu membuka mata hati yang tertutup sekian lama
bagiku kini.. pacaran itu TIDAK lagi KEREN. apanya yang keren? pacaran itu mendekatkan diri kita pada perzinahan. dan tentu azab Allah swt menanti.
itulah sebabnya, mengapa aku tidak sedih ketika "menyerah" dia lontarkan. karena itu adalah kemerdekaan dari belenggu dosa yang kian menumpuk dalam diriku. terimakasih kau sudah menyerah. :D
Selasa, 08 Juni 2010
maaf, kehilangan, dan keyakinan
Kau yang tidak mau mengerti aku atau aku memang sulit dimengerti? Sebenarnya… kubuka hati ini agar kau mudah memahaminya. Tapi sepertinya usahaku membuka hati sia-sia. Karena kau tetap tidak mengerti. Atau tanpa sadar memang aku tidak pernah membuka hati?
Sudahlah! Tiada yang patut disalahkan dan menyalahkan.
Maaf
Maaf karena selama ini aku tidak bisa memberi kepastian yang kau inginkan. Aku tak berwenang memberi kepastian. Kepastian yang seharusnya diberikan langsung oleh Allah swt. Maafkan aku. aku juga tidak pernah bermaksud demikian. Karena bagiku. Prinsip hidup adalah segalanya. Mata hatiku telah terbuka untuk tidak memilih pasangan saat ini. dan tidak akan kubiarkan untuk tertutup lagi. Karena begitu hatiku tertutup untuk ke sekian kalinya. Aku takut sulit dibuka lagi. Dan pada akhirnya, aku akan jatuh dalam kubangan dosa dengan hati tertutup. Naudzubillah… Maafkan aku sekali lagi. Mungkin aku tidak bisa menjamin harapan yang kau tunggu. Tapi ini agar kau mengerti… bahwa janganlah kau mengharapkan cinta dari manusia. karena sesungguhnya maha pemilik cinta hanya Allah. Jika kau mengharapkan aku mencintaimu, maka kau akan sakit hati, jika memang kita tidak menyatu. Tetapi jika kau mengharapkan Allah mencintaimu, maka Allah akan mencintaimu seperti kau mencintai-Nya.
Kehilangan.
Memang. Aku sangat kehilangan. Karena tidak ada lagi orang yang akan membuatku kesal dengan jutaan ejek yang dimuntahkan. Tidak ada lagi orang yang membuatku tersenyum geli karena candanya yang tanpa henti. yah… banyak yang kosong akhirnya dalam hidupku.
keyakinan
aku yakin. kekosongan ini akan ditambal dengan keberadaan orang-orang di sekitarku. Dengan daftar kegiatan yang menanti kuikuti. Aku yakin itu. karena disetiap aku kehilangan sesuatu… Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang baik di depan sana. Dan aku yakin. aku akan mendapatkan yang terbaik itu. begitupun juga denganmu.
Terimakasih selama ini telah di sampingku. :)
Senin, 07 Juni 2010
MSS EXPERIENCE
Hari itu hari Minggu. MSS CAMP dimulai… Kumantapkan hati untuk mengikuti kegiatan dari EMBUN itu. Malam Minggunya, saudara kembarku datang. Vina. Rasanya besok aku sangat malas untuk pergi ke MSS. Bagiku, lebih menyenangkan berkumpul dan bersua dengan saudara kembar yang sudah cukup lama tidak kutemui.
Tapi… kuluruskan niat. Oke. Intermezzo sedikit. Sejak masuk GAMUS, aku mulai sadar pentingnya meluruskan niat. Berusaha berkomitmen dengan apa yang telah diputuskan sebelumnya termasuk di dalamnya. Masuk dalam sebuah tanggung jawab, bukanlah eksistensi semata. Aku harus berkomitmen dengan apa yang sudah aku pilih. Jadi… kuluruskan niat. Aku datang ke MSS bukan hanya untuk mengibarkan bendera eksistensiku di kampus, tapi juga untuk mencari ilmu sebanyak-banyak. Dan aku yakin, Allah mencintai orang yang gemar mencari ilmu. Amin :D
Minggu paginya, dengan mata masih setengah mengantuk… kutelusuri jalan dengan motor menuju kampus. Tepat waktu. Aku datang tepat pukul 9 pagi. Dan keberangkatan pukul setengah 10 katanya –walau faktanya berangkat pukul 10 lewat 10 – setelah semua berkumpul, angkot (dibaca : ancout) datang. menggiring maksudku mengangkut kami semua menuju Villa Istana Bunga di Lembang yang konon katanya tempat disana sangat dingin. Bukan konon lagi. Tapi begitulah adanya.
Kurang lebih pukul setengah 12 kami semua tiba. Angkot (lagi lagi dibaca : ancout) yang kami naiki hanya menurunkan kami di gerbang pintu villa. Akhirnya, dengan kebahagiaan (yang sedikit terpaksakan) kami harus berjalan agak jauh untuk dapat menggapai villa.
Sesampainya di villa, kami semua meletakkan tas dan siap merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Memanjakan kaki yang sudah berjalan cukup jauh dengan beban di pundak karena memikul tas yang berisi perlengkapan untuk beberapa jam ke depan.
Siangnya setelah mengenyangkan perut yang kosong, kami semua disuguhkan dengan banyak sekali games yang merangsang kekompakkan kelompok. Kepercayaan, kekompakan, dan kepemimpinan merupakan salah tiga poin yang kami dapat. Games yang menguras tenaga itu membuat keroncongan mampir layaknya pengamen yang tiba-tiba datang.
Games… istirahat… solat magrib… solat isya… dan… malamnya kami dilepas lagi ke liarnya malam yang indah. meski sudah 5 lapis ditambah sweater yang sudah kugunakan, dinginnya Lembang tetap saja menusuk hingga ke tulang bahkan ke sumsun bagian dalam. Jari-jari tangan dan kaki membeku. Hidung sudah memerah menahan dingin. Bibir menghitam pucat tak tahan akan angin yang juga berkibaran.
Malam itu, pos-pos yang ada menyediakan pertanyaan. Pertanyaan yang kadang membuatku butuh tenaga ekstra untuk berpikir akan jawabannya. Tapi… sudahlah. I did the best for answering the questions!! Hehehe
Pagi ini. hari senin tanggal 7 Juni 2010. Persiapan pulang. Tapi sebelum pulang. Ada gathering terlebih dulu. Kali ini dengan angkatan 2007. Banyak hal yang diceritakan kang Irshal dan kang Ahmad Alkatiri membuatku terbuai. Actually, banyak hal juga yang mencuat di otakku. Menunggu untuk dilontarkan. Pertanyaan yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan EMBUN, tapi berhubungan dengan organisasi. Lain waktu, pasti kutanyakan pada mereka! Ya! Tekadku bulat.
Tak lama… panitia menyebutkan nama 5 orang terbaik dari 2009 yang direkomendasikan untuk menjadi TOP MANAGEMENT EMBUN. Satu, Alwin. Dua, Nino. Tiga, Dea. Empat, Rully, dan yang kelima… VANI. Aku tidak percaya namaku terpanggil dengan lantang oleh teh Gadis (atau Gladis ya? Hehehe)
Mereka bilang, mereka menyukaiku karena kewibawaan yang aku tonjolkan. Alhamdulillah… aku kembalikan lagi kepada-Mu, Ya Allah… aku berangkat MSS dengan niat untuk mencari ilmu karena Allah… dan setelah mendapat kabar bahagia (masuk kedalam 5 orang terbaik untuk direkomendasikan) kukembalikan kebahagiaanku kepada Allah. Alhamdulillah Ya Allah. Itu semua terjadi karena kehendak-Mu :D
Kamis, 03 Juni 2010
khayal yang nyata
Dengan wajah menunduk *untuk menjaga pandang* aku berjalan menelusuri parkiran kampus.
Berharap sang dosen datang terlambat. Aku berjalan dengan cukup cepat mengingat aku sudah telat 10 menit. Dalam tundukku. Sebuah tangan terpetik tepat di depan badanku yang terus melaju. Sangat mengagetkan. Tangan itu datang dari arah yang berlawanan. Memecahkan kegelisahan akan keterlambatanku.
Kutolehkan wajah. Mencari sumber sang pemilik tangan itu. Jantungku berdegup begitu cepat. Pria berwajah hitam manis itu menyapaku. Dengan senyum yang subhanallah tak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Ketulusan, keikhlasan, dan ketekunan terpampang di wajahnya. Aku terhempas. Sangat terpesona. Subhanallah dan astagfirullah kuucapkan bersamaan dari mulut dan hati. Subhanallah… kuucapkan karena terpesona melihat indahnya ciptaan Allah swt. Dan kuucapkan “astaghfirullah…” karena tidak seharusnya kupandang ia begitu lama. aku tidak bisa mengatakan aku jatuh cinta. Karena yang ada hanyalah membangun cinta. Tapi aku juga tidak bisa berkata aku tengah membangun cinta padanya karena Allah. Bagiku, seorang pria yang akan mendapatkan cintaku hanyalah suamiku. Siapapun dia. Jika Allah menakdirkannya. Maka InsyaAllah aku akan mencintainya.
Segera kutundukkan pandang. Berharap ia tak membaca kegugupanku. Sedikitnya kami berbincang dari jarak kurang lebih 3 meter itu tanpa berteriak. Kututup sedikit wajahku karena cahaya matahari menyilaukan mata.
Percakapan singkat itu berakhir setelah dia berkata, “Yauda… kuliah dulu sana!” terdengar seperti mengusir kalau sepintas memang. Tapi tidak. Ia mengucapkan kalimat itu dengan sangat sopan. Seperti kata mama, orang Jawa itu sopan-sopan. Dan ia memperlihatkan kesopanan itu karena ia dari Jawa. wajarlah kalau mama ingin anaknya menikah dengan orang Jawa. *tapi diserahkan lagi ke Allah swt
Pagi itu juga. Kumasuk kelas dengan senyum mengembang. Rasanya sangat bahagia. Bunga tumbuh bermekaran dalam hati. Subhanallah… perasaan apa ini? aku sendiri tidak tahu. Ya Allah… aku hanya berharap Engkau akan melindungi dan meridhoi perasaan ini jika memang seperti takdir yang telah Kau buat untukku.
Dia… siapa dia itu? aku sendiri masih belum kenal. Yang jelas, dia hidup dalam dunia khayalku. Menguatkan kesemangatan dalam hati setiap harinya. Dia itu… masih sangat misteri namun seolah nyata.
Rabu, 02 Juni 2010
seseorang
seseorang yang melihat kekurangan dan kelebihanku sebagai sebuah keunikan
seseorang yang melengkapi kekurangan yang kumiliki
seseorang yang membungkus rapi kelebihan yang kumiliki
seseorang yang membangunkanku dikala aku terlelap hingga tak mendengar adzan berkumandang
seseorang yang mengajarkan ketidak tahuanku menjadi ilmu
seseorang yang meragukan dirinya untuk menyentuh tubuhku
seseorang yang mengistiqomahkan hatinya untuk menjaga kesucianku
seseorang yang membacakan ayat Al-Quran sesaat sebelum aku terlelap
seseorang yang mengajakku berpuasa karena Allah
seseorang yang MENCINTAIKU KARENA ALLAH
seseorang yang tidak peduli
seberapa tebal kaca mata yang kugunakan
seberapa lebar ukuran tubuhku
seberapa jelek baju yang kukenakan
tapi seseorang yang peduli terhadap segala hal yang ada padaku dengan tetap mengingat asma-Nya
Rabu, 19 Mei 2010
tinggalkan saja
Ternyata benar. Aku hanya menjadi korban atas tuntutan yang kau tetapkan. Itu memang terdengar seperti maumu saja. sekedar maumu. Tapi itu sama saja berarti kau tidak pernah membiarkan Allah mengatur segalanya. Kita memang harus meminta apa yang kita inginkan pada-Nya. Tapi bukan berarti kau memaksakan apa yang kau inginkan padaku. Karena itu semata-mata tuntutan yang membebankan pundakku. Tidakkah kau lihat betapa kurusnya tubuhku saat ini? tidakkah kau lihat wajahku yang kian memucat karena sudah banyak yang kupikirkan?
Aku yakin kau tidak buta. Tapi jika kau menyayangiku. Kan akan menyayangiku apa adanya. Kau akan menyayangiku tanpa memberi tuntutan. Tanpa berusaha mengubahku. Tolong… sayangi aku dengan tulus. Cintai aku dengan tulus. Jika kau tidak bisa. Kibarkanlah bendera tanda kau menyerah. Dengan eitu. Aku tahu… bahwa kau memang tidak mencintai dan menyayangiku dengan tulus.
Kau tahu. Kadang. Rasa rindu yang menderu dalam setiap detik sebelum kupejamkan mata. Membuatku tak sabar untuk menyongsong hari esok dan bertemu denganmu. Tapi lagi lagi ketakutan melandaku. Aku takut. Aku takut atas kerinduanku padamu. Aku takut kerinduan ini bukan karena Allah. Sehingga nantinya. Jika aku memaksa bertemu denganmu. Akan menjadi nafsu yang telah kupenuhi. Aku takut. Sangat ketakutan. Aku ingin mencintai dan menyayangimu karena Allah. Sehingga rasa itu akan hanya satu tingkat dibawah rasaku terhadap keluargaku. Tolong… mengertilah…
Kalau kau tetap tidak mengerti. Tinggalkanlah aku. karena sesungguhnya aku tidak pernah memintamu untuk menungguku.
Kini. Aku bukan gadis kecil lagi. Yang beranggapan bahwa dengan punya pacar itu KEREN. Kini aku tumbuh dewasa. Sadarilah itu. sebab kedua orang tuaku pun menyadari itu meski kadang aku masih sering bermanja dengan mereka. Meski mereka tetap memperlakukanku seperti anak TK. Intinya. Aku berubah. Aku tidak ingin lagi seorang pacar. Yang kuinginkan adalah seorang imam yang mampu membimbingku. Mengingatkanku yang kadang tergelincir dalam lubang-lubang kehilafan. Tolonglah… mengerti…
Jika kau tetap tidak mengerti. Tinggalkanlah aku. karena sesungguhnya aku tidak pernah memintamu untuk menungguku.