Kamis, 07 Juli 2011

Perbincangan Malam Lalu

Malam sebelum mama pulang ke Rangkasbitung...

“Mama... Udah tenang aja. Ni bisa bikin sendiri kok. Ni kan bukan anak kecil lagi. Mama jangan terlalu khawatir.”

“Iya gitu? Bukan anak kecil lagi? emang umur Ni berapa?” Tanya mama menggoda.

“Agustus nanti kan 20, mam...”

“Tapi kok kalo makan masih mau disuapin sama mama?”

zzzzzzzzzzz

“Ni, kok makannya sedikit?” Tanya mama lagi sambil melihat nasi di atas piring biru kesukaanku.

“Nggak nafsu makan, ma.”

“Tuh. Mama nggak mau Ni sakit. Emang lagi ada pikiran apa? Udah. Kondisi bapak kayak gini nggak usah dipikirin. Yang penting Ni kuliah yang bener. Mandiri.”

“Nggak mikirin kok, mam. Sekarang Ni emang fokus kuliah, mam. Nggak mikirin pengen cepet nikah, mam. hehehe.”

“Pujing kamu mah kalo banyak pikiran suka sakit. Jangan sampe kaya kemaren. Masuk RS gara-gara beban pikiran. Ke jantung juga kan jadinya.”

Deg! jantungku langsung berdegup. “Dari mana mama tahu ‘beban pikiran’ itu?” Tanyaku dalam hati.

“Teranglah mama tahu. Mama yang ngandung. Mama yang ngelahirin. Mama yang besarin. Kenapa nggak mau cerita sama mama?”

“Takut mama anggep dia jelek.” Jawabku singkat.

“Dengerin mama ya, Ni. Jangan pernah kamu nangis gara-gara lelaki. Apalagi sakit. Kecuali kalo dia suami kamu. Itu baru boleh. Laki-laki yang baik itu, bakal ngejaga omongannya ke kamu. bakal juga ngejaga kesetiaannya ma kamu. semua itu bentuk penghargaan dia ke kamu.”

“Siap, ma!!” Sambil hormat. Mama geleng-geleng kepala.

“Ni, mama nggak pernah ngelarang Ni deket sama siapapun. Soalnya, mama mau Ni seneng. Nggak ngerasa dipaksa sama mama. Tapi Ni harus cari laki-laki yang cuma cinta sama Ni aja, tapi juga cinta sama keluarga Ni. Suami yang bisa ngebimbing Ni dunia-akhirat, suami yang bisa ngehargain Ni, suami yang bisa penuhin kebutuhan Ni.”

“Lah mama? kenapa ngomong kayak gini?”

“Nggak. Tiba-tiba aja mama keingetan Na nanya gini, “mam. kalo setelah lulus kuliah ni langsung nikah boleh ga?” Ya mama kaget dong.”

GUBRAK! tuh anak satu!

“Mama kan jadi ngerasa kayaknya harus ngomong kayak gini sama Ni.”

“Mama tenang aja ya. target ni nikah 23 kok. Jadi tahun depan ni lulus, ni langsung kerja, beliin mama bapak rumah patungan sama yang lain, baru entar ni nikah.”

“Iya. Mama tahu. Ni, tahu nggak? kalo udah tua itu pengennya deket anak aja loh. Mama mah pengen ni tetep di Bandung atau nggak masih di pulau Jawa deh setelah nikah. Kalo mama udah tua, mama cuma bisa bertumpu sama anak.” Pembicaraan mama mulai menjurus.

“Mama. Jangan pikirin aneh-aneh deh. Mama tenang ya... Kalo ni punya uang banyak, ni bakal beli rumah pas di samping rumah mama. Jadi kalaupun Ni nggak di Bandung, Ni bakal sering main ke tempat mama. kan rumah Ni deket rumah mama.”

Mama diam. Kulihat mata mama berkaca-kaca. Aku tahu betul. Berbagai hal yang dialami belakangan ini, membuat mama terlihat jauh lebih tua dan rentan. Aku melanjutkan makan malam yang tertunda.

“Mama kenapa?”

“Nggak apa-apa Ni. Mama cuma mau semua anak mama dapet yang terbaik aja. Mama nggak mau anak mama susah. mau beli ini, susah. mau jajan aja, susah. mama nggak mau. mama sama bapak nggak bisa kasih apa-apa. Cuma bisa kasih ilmu. itu pun nggak seberapa.”

dengan sadar, aku meneteskan air mata.

“Mama tenang ya. apa yang mama bapak kasih itu lebih dari cukup. Ni mohon doa dari mama ya. Biar kuliah ni lancar, ni bisa lulus cepet, dapet kerja, biayain kuliah epang juga, dapet suami yang sayang sama mama bapak dan semua keluarga ni. Ni mohon doa aja ya, ma.”

mama segera menyeka air matanya.

malam haru yang penuh air mata di atas meja makan.

Sabtu, 02 Juli 2011

Kapan terakhir kali?

sang dosen yang menyenangkan dan membuat suasana kelas tidak menyeramkan itu mengatakan,
"Kalian harus balance antara main dan belajar. Menurut saya, orang bego yang belajar waktu minggu tenang. Seharusnya kalian tenang aja. Main kemana. Kan belajarnya udah selama kuliah. Jangan sampe waktu kuliah mengganggu waktu main dan waktu main mengganggu waktu kuliah. Menurut penelitian, orang yang mendapat nilai tinggi itu adalah orang yang jiwanya tenang saat ujian. Bukan orang yang belajar mati-matian."
Depp!!! jantungku bergetar setelahnya.
"Yap! kapan terakhir kali aku pergi main dan me-refresh-kan otak?"
jawabannya adalah TIDAK TAHU. Di hari Senin lalu aku memang pergi ke CIC, tapi itu bukan sengaja pergi untuk main... aku pergi ke CIC setelah melakukan survey villa di Jayagiri.
And guess what? aku bawa motor sendiri. Jadinya bukan refreshing dong. lawong badan aku jadinya pegel-pegel.
"Yap! Kapan terakhir kali aku pergi jalan-jalan? Sekadar mencari buku... sekadar nonton film di bioskop... sekadar masuk supermarket dan melihat perlengkapan bayi..."
sebenarnya masih banyak lagi kegiatan yang selalu kulakukan mengisi weekend. Walaupun seorang diri. :)
Tapi entah kenapa... belakangan aku terlalu sibuk dengan urusan kuliah, organisasi, dan kursus... "Wait!! Am I too busy to get out and have fun? or I just looked for it?"
Sepertinya aku memang tidak cukup bisa menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk tidak pergi bersenang-senang. Justru akulah yang mencari-cari kesibukan untuk bisa bertahan. Sejak 3 bulan yang lalu, aku tidak ingin pergi berjalan-jalan sendiri. Aku tidak mau nonton film di bioskop sendiri -yang biasanya aku lakukan sejak masuk kuliah-, aku juga tidak mau berjalan di supermarket untuk melihat barang bayi seorang diri -hal yang sama yang selalu kulakukan setiap kali merasa penat. sekalipun harus seorang diri-
Intinya adalah aku tidak mau pergi sendiri untuk menghilangkan kepenatan kuliah, organisasi, dan kursusku. Aku hanya ingin seorang teman untuk berjalan menghilangkan kepenatan.
Siapa dia?
Entahlah. I don't meet him/her yet.

Jumat, 01 Juli 2011

impian

Salah satu dari puluhan impian yang sudah kususun dan akan segera kugapai adalah UMROH. Saktu aku SMP kelas 2 (kalau tidak salah), mama dan bapak pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan salah satu rukun islam yang kelima. Sepulangnya dari sana, mama dan bapak cerita banyak hal. Betapa nikmatnya beribadah disana, betapa sayangnya meninggalkan waktu sedetik pun hanya untuk bermalas-malasan, dan masih banyak lagi.

Sejak saat itu, aku punya impian untuk pergi umroh bersama seluruh anggota keluarga; mama, bapak, aa, teteh, Epang, and my beloved twin sister; Na.

Oke. first, i wanna tell something. there’s a different thing betwen “impian” and “mimpi”. kalau impian menurut aku, adalah sesuatu yang harus bisa dicapai di masa mendatang. sedangkan mimpi, ia hanya bunga yang menemani tidur, di dalam mimpi semua abstrak. Teringat ucapan Pak Gadang, Dosen BJT dan Manstra. “Ketika anda bertemu dengan pacar dalam mimpi, apakah anda tahu pakaian warna apa yang anda pakai? Tidak! Di alam mimpi, kekasih hati itu hanya berwarna hitam dan putih. Tidak tanpa jelas.” Sedangkan impian menurutku, lebih berwarna. Ianya mampu kita capai karena bukan sesuatu yang abstrak.

Back to umroh.

Aku pikir, usahaku untuk mencoba membuat impian itu menjadi kenyataan setelah lulus kuliah dan setelah mendapat kerja.

Tapi sekarang aku tahu. Aku tahu kalau aku salah. Tidak semua hal bisa kita upayakan setelah kita lulus dan dapat pekerjaan. Segala usaha dapat kita lakukan dari sekarang. Tidak perlu menunggu kita dapat menghasilkan uang sendiri. Teringat ucapan Aa Gym. Beliau mengatakan, “Mulailah menabung dari sekarang untuk umroh di kemudian hari.” (kurang lebih seperti itu). Jadi kupikir, tidak peduli besar atau kecilnya uang yang kukumpulkan tiap harinya untuk pergi kesana bersama seluruh keluarga, tetapi niat dalam diri untuk pergi kesana. Allah Maha Segalanya. Allah Mengetahui sebesar apa usaha yang dijalankan oleh umat-Nya.

“Ya Allah... Semoga Engkau menjaga istiqomah hamba dalam setiap upaya agar hamba dapat pergi ke rumah-Mu. Aamiin.”

Rabu, 29 Juni 2011

catatan lama

perasaan apa ini?
setiap saat ingin bertemu
setiap saat ingin bicara
setiap saat merasa rindu
setiap saat merasa sayang
setiap saat ingin menjaga
setiap saat ingin menghibur
perasaan apa ini?

aku tidak tahu perasaan apa sebenarnya ini...
cintakah?
sayangkah?
sukakah?
atau jangan-jangan hanya kagum?
yang jelas. setiap detiknya aku mencoba untuk tidak mengirimkannya sebuah sms walau sekadar mengucapkan salam. bukan karena gengsi. tapi dalam upaya penjagaan diri agar tidak melakukan hal yang mendekati larangan-Nya. agar tidak melakukan hal yang melukai diri-sendiri. agar tidak melakukan hal yang pada akhirnya membuat hati tercabik.

sebuah tulisan yang berlayar dalam kertas putih berwarna merah. sebuah tulisan dalam kertas usang yang ternyata sudah lama kubuat. sekitar... entahlah. cukup lama sepertinya. karena buku itu ada di sebuah tumpukan buku-buku berdebu tebal. tanggalnya pun tidak jelas. pudar tertimpah air.
akhirnya aku bertanya,"apa yang terjadi ketika tangan bergoyang menulis kalimat yang menggambarkan perasaan hati itu?"

Senin, 20 Juni 2011

penuh makna

“seperti sebatang pohon yang ditancapkan paku. ketika paku itu dilepas, maka bekasnya akan terus ada.”

“seperti sebuah tembok yang dipasang paku. ketika paku itu dicabut, bekasnya akan selalu ada.”

dua kalimat bermakna sama. ketika sebuah hati terkhianati, akan sangat sulit untuk menghilangkannya. seakan terus membekas. menjangkit... mempengaruhi tingkah laku dan pola pikir korbannya.

“Lubang paku itu akan hilang kalau ditambal.”

ketika mengatakan sulit untuk dihilangkan, bukan berarti itu tidak mungkin hilang.

tembok pun masih bisa ditambal dengan olahan semen yang mungkin jauh lebih kuat dan berkualitas sangat baik. ketika penambalan itu selesai, tentulah masih ada bekas. karena semen yang baru tidak akan sama dengan tembok yang sudah usang termakan waktu. tapi tak apa... itu upaya untuk menjadi lebih baik. tahap selanjutnya setelah menambalnya... catlah tembok secara keseluruhan (tembok yang sudah ditambal is included). dengan begitu, hilanglah bekasnya secara kasat mata.

intinya adalah... segala upaya dapat dilakukan membuka lembaran baru. membuka kehidupan baru yang jauh lebih baik. karena...

ketika sakit menerpa, ketika luka terhempas menghadapmu, ketika pilu lirih menghantammu, ketika air mata tak hentinya meraja, ketika virus kesedihan menjangkit

yakinlah... Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersama. yakinlah akan ada sehat setelah sakit, akan ada suka setelah luka, akan ada riang setelah pilu, akan ada senyum setelah air mata, dan akan ada kebahagiaan setelah kesedihan

yakinlah... Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah tidur, tidak pernah tuli, tidak pernah buta.

“aku akan menambal lubang itu.”

teriakkan dengan kencang! dengan begitu seluruh tubuhmu akan merespon dengan baik. maafkan lalu lupakan paku yang dicabut. lupakan lalu perbaiki lubang itu.

Sabtu, 18 Juni 2011

One Of The Biggest Present

till last night, hati masih saja terus bersiteru. menyayangkan amanah yang diembankan kepadaku. Aku hanya ingin belajar yang baru. Bukan sekretaris lagi dan lagi.

tapi tahukah sesuatu?

aku sadar satu hal... dan kesadaran itu setelah sahabatku mendekat dan mengatakan, “Van... aku...” dari wajahnya... memperlihatkan bahwa ia belum siap mendapat amanah sebagai Sekretaris Umum.

satu kalimat terlontar dari mulutku begitu saja, “Anggaplah itu hadiah dari Allah sebagai hasil proses belajar kita selama ini, Tik!” (Ups! jadi nyebut merek)

kalimat yang kulontarkan dengan sendirinya, menyadarkan kekerasan ego yang terus menyelimuti hati. keengganan diri mendapat amanah yang diembankan dengan keyakinan bahwa aku berhak mendapat pelajaran baru. bukan hanya sebagai sekretaris.

ANGGAPLAH SEBUAH HADIAH YANG ALLAH SWT BERIKAN SEBAGAI HASIL PROSES BELAJAR KITA SELAMA INI.

siapapun yang memberikan aku sebuah hadiah, aku akan menjaganya dengan baik. bahkan ketika seorang pria memberiku sebuah gelang magnet hitam kurang lebih 8 tahun lalu, masih kusimpan dengan baik. kenapa ketika hadiah itu datangnya dari Allah aku malah menolaknya?

istighfar selalu kulantunkan. aku benar-benar merasa sombong pada apa yang telah kulakukan dulu. hingga kupikir aku berhak mendapatkan kesempatan belajar yang berbeda dari sebelumnya. bodoh! padahal dulu pun mungkin aku belum dapat apa-apa. dan sekarang aku akan kembali lagi dari nol. belajar dengan baik. berharap akan ada banyak hal yang dapat kupetik.

sekarang, hadiah ini akan kujaga dengan baik. kurapikan ia setiap waktu. melapisinya dengan emas kesungguhan dan tanggung jawab sebagai bungkus terakhirnya. ini bukan hanya untuk urusan dunia saja... tetapi kelak akan kusampaikan pertanggung jawabanku di hadapan Sang Pemberi hadiah.

Terima kasih Ya Allah...

Engkau telah memberikan hadiah terbesar ini melalui tangan mereka. melalui pikiran mereka. terima kasih

Selasa, 14 Juni 2011

thanks for everything

thanks for those stuffs which you bought for me...
i never ask you to buy those, but you just gave it to me
when you said that you would always support my activities, you just proved it.
i said, i will take PKL next month...
you just gave me all of things which i needed. bag and shoes.
thank you so much. but i can't accept it.
when you ask me to be your special woman, i ignored it. it was not caused by you are not kind or something. but... you are so patient to be with me. you just give me everything; attention, time, smile, motivation, and a lot of things...
so sorry i can't be with you for today, tomorrow, next week, next month, next year... unless Allah wants to give us different destiny.
so sorry i can't be with you, cause i love another man.
so sorry those stuffs which you bought were ignored by me

i don't know how to tell you.
i don't wanna make you hurt...
even though i know you always get a hurt when you tell me that you love me
i hope you will read these words. this is from the bottom of my heart