Sabtu, 22 Oktober 2011
surat kasih untukmu
tapi aku tidak berani mengungkap kerinduan ini
aku ragu lalu memilih diam
padahal kita tidak terpisah jauh
masih di satu negara yang sama
masih di satu bangsa yang sama
dan masih bicara bahasa yang sama
aku sangat merindu
hey!
jangan pernah bilang kalau kamu takut kehilangan aku
aku tidak akan pergi kemana-mana
bukan karena aku memutuskan untuk tinggal tapi karena memang belum waktunya aku untuk pergi
ingat perkataanku baik-baik...
aku akan selalu berada di sekitarmu
berada di sampingmu untuk berjalan bersama denganmu
berada di depanmu untuk melindungimu, karena kamu lelaki yang membutuhkan wanita
berada di belakangmu untuk selalu mendukungmu
yah...
aku akan berada di sekitarmu
sampai Allah memutuskan keputusan lainnya bagi kita.
kalau kamu ingin takut, takutlah pada Allah
karena hanya kepada-Nya kamu dapat meminta hatiku
hanya kehendak-Nyalah yang membuat kita bisa bersatu
surat kasih ini kusampaikan untukmu yang terkasih
untukmu yang seakan jauh di sana, padahal kamu selalu dekat di sini, di hatiku
untukmu yang selalu singgah dalam doaku
untukmu yang mengajarkan kehidupan lain dalam dunia ini
untukmu yang akan menjadi segalanya bagiku
Jumat, 21 Oktober 2011
jangan tunjuk saya
"Van! Hafidzoh bukan?"
aku tersenyum, "Kenapa?"
"Iya bukan, Van?"
"Vani punya hak buat nggak jawab pertanyaannya, kan?"
"Kalau gitu artinya ngaji juga bisa. Aku minta ajarin dong, Van!"
"Loh? Jangan sama Vani. Vani nggak bisa."
"Aku pernah denger Vani ngaji. Bagus."
"Loh? kok bisa? denger dimana?"
"Mau ya ngajarin aku... Please..."
"Jangan sama Vani. Beneran. Nanti kalau diajarin sama Vani bisa-bisa hati nggak kejaga lagi. Terus niat belajar baca malah berubah lagi."
"Kok Vani suudzon sih?" wajahny memurung.
"bukan suudzon. tapi mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Nanti Vani kenalin sama orang yang ahli ya... :D"
"Makasih Vani. Aku pengen belajar baca aja. Tapi nanti belajarnya lebih mendalam. Nanti aku bakal jadi bapak. Jadi aku mau ngajarin anak aku sendiri ngaji."
aku tersenyum. "Subhanallah... mulianya niat saudaraku ini." dalam hati. tapi jangan tunjuk saya menjadi guru ngajimu. karena saya seorang wanita. saya seorang akhwat. saya belum pantas mengajarkan Al-Quran kepada siapapun.
Rabu, 19 Oktober 2011
Pengen Nyebur di Curug Cimahi
awalnya mau ke CIC, tapi karena bosan. aku putar haluan.
entah sejak kapan kami menjagi "curug hunter"
senangnya berwisata dari satu curug ke curug berikutnya.
curug yang kami datangi adalah curug Cimahi kali ini. sebelumnya, iseng mencari beberapa curug terdekat dengan kota Bandung. alhasil nama bermacam curug di daerah lain pun muncul. tadinya pengen ke curug Penganten. tapi... nanti ajalah.
perjalanan menuju Curug Cimahi tidak jauh dari pintu masuk Villa Istana Bunga. sekitar 2 km mungkin. tidak perlu belak-belok. cukup ikuti saja jalan utamanya. nanti gerbang curug akan tidak terlihat. :D
maksudnya setelah 2 km, akan ada sebuah pintu masuk (yang tidak nyangka pintu masuk ke kawasan wisata curug Cimahi). Kami sempat melewati gerbang curug. karena pintu masuknya cukup kecil dan tidak begitu mencolok.
setelah memarkirkan motor, kami langsung menyambar pintu masuk curug. tiket masuknya Rp10.000. sangat sesuai dengan kondisi jalan yang sudah bagus dan nuansa alam indah yang didapat.
kami masuk ke gerbang, melewati pintu. harus menempuh perjalan 500 m untuk bisa mencapai curug. jalannya bagus. sudah dipasang pavin block. karena jalannya turunan, kami tidak merasa lelah. sekitar 250 m ada saung kecil untuk beristirahat. meluruskan kaki yang mulai pegal. dari saung pertama ini, kami bisa melihat curug secara utuh. dari ujung tempat airnya jatuh hingga ketika air mengalir. orang-orang ramai sekali. ada yang berenang atau sekedar duduk merasakan angin yang merdeka.
kami melanjutkan perjalanan sisa. setelah sampai... subhanallah. pelangi akibat gabungan air dan cahaya matahari yang bertemu, sangat cantik. luar biasa. angin pun membuai kami.
ini dia hasil dokumentasinya...



melindungi hati
tapi hanya ingin melindungi hati
salahkah?
Minggu, 16 Oktober 2011
tidur dalam damai
pintunya terbuka. kuintip sedikit. dari jauh kulihat sebuah kepala sedang terbaring. aku terus mendekat.
ternyata dia.
aku diam. tidak berani membuat keributan sedikitpun. aku takut membangunkannya. dia tertidur dalam damai. damai sekali. tidak ada beban sedikitpun yang tersirat di wajah damainya.
yah...
dia memang tidur dalam damai
Apa kabar hati?
tengah berbunga-bunga sekarang
semoga bunga ini merekah beriringan dengan berkah dari-Nya
semoga bunga ini merekah beriringan dengan kaldu kasih-Nya
semoga rekahan ini selalu dilindungi oleh-Nya, Sang Maha Pelindung
Dia yang Maha membolak-balik hati manusia
Ya Allah... kuatkan kami dalam jarak kehalalan yang belum kami petik
ketika rekahan ini adalah cinta
maka jadikan ia cinta yang mendekatkanku pada-Mu, Rabb...
Sabtu, 15 Oktober 2011
renungan pagi hari
Pagi ini, aku turun menghampiri mama dan bapak di meja makan. Bapak sedang asik menonton acara yang dibawakan oleh Ust. Arifin Ilham. Sedang mama membungkus pisang dan gula merah dengan kulit lumpia. Kuberanikan diri meminta izin untuk pergi ke Banjaran, mengikuti kegiatan kampus. Mama langsung melempar pada bapak. Mulailah bapak merangkaikan kalimat dari bibirnya dengan sangat tegas. Dan memohon. Ya… sebuah permohonan yang tegas.
“Ni, Banjaran itu jauh. Kemaren Ni kambuh lagi. Semaleman mama sama bapak nggak bisa tidur. Takut tambah parah jadi harus masuk RS. Kalau Ni nggak sakit kemaren, mama bapak bakal kasih izin. Bapak mohon sama Ni. Hari ini aja jangan kemana-mana dulu. Udah mah seminggu ini pulang malem terus. Sekarang jangan dulu kemana-mana Ni. Kalau Ni sehat, bapak nggak pernah larang Ni ikut kegiatan apa-apa juga kan? Batuknya Ni juga nggak sembuh-sembuh. Diajak ke Advent, nggak mau. Bapak kan jadi bingung.” Aku menunduk mendengarkan bapak.
Setelah bapak selesai, aku pergi dengan air mata yang sudah siap terjun bebas. Keegoisan mulai meraja. Aku masuk dan menutup pintu kamar. Mempersilakan air mata yang sudah tidak sabar untuk mengalir.
Lelah menangis, aku terlelap sekejap. Aku terbangun, memikirkan kerugian yang kudapat kalau dipenuhi dengan kesal dan amarah. Karena aku akan kehilangan detik-detik kebahagiaan. Aku segera mandi. Menyegarkan diri. Lalu turun. Menghampiri nasi dan tempe yang sudah mama siapkan. Sambil sarapan, mama memulai percakapan.
“Ni nggak ngambek?” tanya mama
“Tadi iya, sekarang nggak, mam.”
“Mama sama bapak trauma aja. Takut Ni masuk RS lagi. Mama sempet ngerasa bersalah kalau Ni sakit gara-gara nitipin Ni ke Mamani asrama dulu kecil. Nggak lama sama mamani asrama, Ni malah step. Mama bawa ke RS Misi. Disana sampe suster-susternya apet sama Ni.”
Aku ingat, mama memang pernah menunjukkan ruangan tempat dulu bayi aku dirawat di RS Misi ketika kami menengok sepupu yang sedang sakit. “I love you, mamooy. Tempenya enak.” Aku mencoba menenangkan mama.
Seakan air mata akan mengalir layaknya air yang menjebol dinding situ gintung tempo lalu.
Selesai sarapan, aku langsung masuk kamar, melanjutkan laporan magang yang tertunda seminggu ini. Tiba-tiba aku tengat sesuatu…
Aku ingat, lima tahun yang lalu, kelas 1 SMA, mama nangis ketika tubuh lemahku dibawa dengan tempat tidur dorong menuju kamar VIP A RSAI Bandung. Kala itu, dokter memvonis aku terserang demam berdarah tingkat akut. Kata dokter, kalau ibarat kanker, ini stadium 3. Trombositku benar-benar longsor. Mama menangis di samping tempat tidurku. Mama dan bapak mengusahakan banyak cara. Termasuk memberikanku obat-obatan tradisional secara diam-diam selama di RS. Alhamdulillah dalam waktu dua minggu, dokter mengizinkanku pulang, setelah agresi pemaksaan kulancarkan.
Tahun berikutnya… lagi-lagi harus pindah kamar ke VIP B RSAI. Tifus. Virusnya menyerang tulang. Seluruh tubuh lumpuh. Kepanikan mama dan bapak lebih parah lagi. Ada dua dokter yang menanganiku. Dokter internis dan syaraf. Lalu di tahun ketiga duduk di bangku SMA, aku harus menahan diri untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat karena tumor yang duduk manis dalam rahim kananku. Kala itu, setiap malam, suasana rumah selalu haru. Dokter bilang aku harus dioprasi. Tapi aku tidak mau. Bukan hanya masalah biaya, tapi karena aku takut. Membayangkan perutku disobek-sobek dengan pisau tipis yang tajam. NOOO!! Jadi merinding disko deh. Setelah melewati pengobatan herbal dan diet selama 6 bulan, Alhamdulillah aku sembuh total. Dokter pun keheranan.
Masa meminum herbal godogan adalah masa tersulit. Aku harus minum herbal yang pahitnya subhanallah sehari dua kali. pagi dan sore. Setiap kali selesai meminum herbal, perutku melilit. Kepalaku sakitnya minta ampun. Kalau tidak ingat Allah, mungkin lebih baik aku bunuh diri. Karena memang sakit luar biasa. Sampai harus tidak pergi sekolah. Masa diet adalah masa tersulit kedua, aku hanya boleh makan buah apel & jeruk, tahu, tempe, telor seminggu 1 kali. itu saja. ikan pun hanya boleh gurame bakar. Keju, susu, cokelat, es krim, dan kacang. Lima pantangan pasti. Intinya, aku tidak boleh makan-makanan berlemak dan siap saji. Karena akan merangsang pertumbuhan tumor. Kalau sedikit saja aku makan, maka kepala yang damai akan berperang. Sakitnya tidak akan tertahankan.
Alhamdulillah aku sembuh total sekarang.
Selanjutnya, penurunan kadar enzim yang kerja pada jantung. Adakah? Yah… beberapa waktu lalu aku harus lagi dan lagi pindah kamar ke VIP C. ruangannya lebih kecil dibanding VIP A dan VIP B. kalau VIP A itu, lengkap. Satu set sofa, TV 29 Inci, pokonya udah kaya kamar hotel paling mahal. Kali itu, aku menggunakan oksigen karena setiap kali kepala yang tenang terguncang, sesak napas mulai terasa. Sampai aku merasa inilah akhir hidupku.
Wajah lelah dan sedih dari mama bapak adalah wajah yang selalu kulihat setiap kali aku sakit. Aku sangat merasa bersalah. Aku benar-benar merasa bersalah karena sudah membiarkan seluruh keegoisanku memenangkan pikiranku. Mengeraskan hatiku. Membuatku ngambek sebentar tadi pagi. Membuatku marah pada mama dan bapak. Aku benar-benar menyesal.
Tidak akan kuulangi. Aku akan berusaha selalu menjadi anak mama bapak yang terbaik. Aku tidak akan lagi membuat mama bapak sedih karena sakit. aku tidak akan lagi ngambek sama mama bapak karena keinginan yang tidak terpenuhi. aku akan menjaga diriku seluruhnya. Mau makan tepat waktu, mau minum suplemen, menghindari makanan siap saji, dan masih banyak lagi. Mama… bapak… percaya deh. Anakmu yang satu ini perempuan yang tangguh sekarang, sekeras apapun guncangan, akan selalu bertahan dan sehat. J
Sekarang, setiap bangun pagi, aku selalu membaca doa dan meneriakkan dalam hati, “HARI INI BAIK! TERSENYUM! DAN SEHAT!”